SIDOARJO TERKINI
Headline Hukum & Kriminal Indeks Politik & Pemerintahan

Peran Pemuda Dalam Mengimplementasikan Pancasila dan Menjalankan Amanat UUD 1945

 

(SIDOARJOterkini) – Posisi pemuda tidak dapat diabaikan dalam kontestasi politik. Kemauan dan arah pemuda melangkah menentukan gerak laju bangsanya. Hal tersebut disampaikan Arzetti Bilbina SE, M.A.P anggota komisi IX DPR RI saat melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan, Senin 16 November 2020 di desa Kedung Sumur Kecamatan Krembung Sidoarjo.

Disampaikan Arzetti, Sepanjang sejarah, gerakan pemuda selalu mempengaruhi kebijakan publik. Peristiwa penting seperti Proklamasi, Gerakan ’66, Malari, hingga Reformasi, membuktikan para elit yang didominasi orang tua mau tidak mau mendengarkan aspirasi para pemuda. Di samping, dalam demokrasi meniscayakan kesetaraan antar sesama warga negara tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan.

“Sejalan dengan cita-cita sumpah pemuda, dan tentu saja cita-cita proklamasi kemerdeaan 17 Agustus 1945, kita harus menyadari bahwa pemuda tetap punya tanggung jawab untuk berjuan mewujudkan cita-cita bangsa. Sesuai dengan spirit Bung Karno “Jangan lah mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda. Kalau sekedar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa dan tanah air. Tapi ini bukanlah tujuan akhir,”tuturnya.

BACA JUGA :  Dua Sepeda Motor Tabrakan di Jalan Wonokupang Balongbendo, Pegendara Alami Luka Serius

Pancasila sebagai nilai Universal masih sangat relevan dengan generasi sekarang ini. Pancasila hanya perlu terinternalisai dengan baik ke setiap generasi yang ada khususnya ke generasi muda yang akan menjadi tokoh pergerakan kemajuan negara ini. Generasi muda adalah kunci untuk memperbaiki pemahaman Pancasila, akan tetapi banyak anak muda sekarang lebih condong meniru budaya kebaratan dan meninggalkan identitas bangsa.

“Kita membutuhkan peran pemuda dalam percaturan politik, karena mempertimbangkan kelebihan mereka. Di antaranya: Pertama, pemuda tidak memiliki beban masa lalu. Perubahan hanya dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki rapor merah, karena tidak memiliki masalah atau ketergantungan pada siapapun,”ucap politikus PKB ini.

BACA JUGA :  Kapolda Jatim Imbau Disiplin Protokol Kesehatan Dipatuhi Saat Libur Lebaran

Acap kali para pembuat kebijakan dan stakeholder tidak leluasa serta merdeka ketika memutuskan sesuatu, karena banyak hal yang dipertimbangkan. Kompleksnya “Conflict of interest” antar pihak membuat kebijakan yang diputuskan tidak progresif, alih-alih menguntungkan diri sendiri.
Kedua, pemuda adalah wakil zamannya. Ada pepatah yang mengatakan ketika kita ingin menilai kemajuan suatu peradaban, maka lihat lah pemudanya. Dalam bahasa Arab kerap diutarakan dengan, “Syubbanul yaum rijaalul ghod”. Artinya, pemuda sekarang adalah pemimpin di masa depan. Di sisi lain, peran pemuda sering diremehkan karena alasan pengalaman. Ada yang mengatakan, “Memang pemuda tidak memiliki pengalaman, karena pemuda yang memiliki masa depan”.

Oleh karenanya, pemuda lebih cepat tanggap dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, pemuda mengetahui sesuatu yang dibutuhkan. Berbeda jika orang tua memimpin, bisa jadi ia akan menggunakan ukuran-ukuran masa lampau untuk menafsirkan fenomena hari ini.
Ketiga, pemuda memiliki semangat.

BACA JUGA :  Masyarakat Patuhi Aturan, Malam Takbir Idul Fitri di Sidoarjo Kondusif

“Semangat ini lah yang menjadikan pemuda memiliki optimisme, kepercayaan diri. Rasa penasaran yang kerap dialami pemuda, membuatnya ingin selalu mencoba dan mencoba. Oleh sebab itu, Sukarno pernah berkata, “1000 orang tua hanya bisa bermimpi, tetapi satu pemuda bisa mengubah dunia”. Petikan perkataan Sukarno tersebut secara implisit menerangkan bahwa pemuda bukan lah orang yang suka berandai-andai. Pemuda cenderung menjemput bola, dari pada menunggu bola. Di samping pemuda juga menggunakan akalnya untuk berfikir segala sesuatunya,”tandas Arzetti. (*/cles)