SIDOARJO TERKINI
Headline Hukum & Kriminal Indeks

Tambah Tujuh, WBP Kasus Terorisme di Jatim Saat Ini Berjumlah 38 Orang

 

(SIDOARJOterkini) l Surabaya – Lapas di jajaran Kanwil Kemenkumham Jatim kembali menerima limpahan tujuh warga binaan pemasyarakatan (WBP) khusus kasus terorisme. Sehingga, saat ini ada 38 orang dengan kasus terorisme yang tersebar di 14 lapas di seluruh Jatim.

Hal itu dibenarkan Plt. Kepala Kanwil Kemenkumham Jatim Wisnu Nugroho Dewanto. Melalui siaran persnya hari ini (2/2), Wisnu menerangkan bahwa pada awal tahun 2022 tepatnya di Bulan Januari, pihaknya menerima tujuh WBP kasus terorisme dari Rutan Cikeas, Bogor. Ketujuhnya disebar ke tiga lapas sesuai dengan SK Dirjen Pemasyarakatan.

“Tiga orang ke Lapas Surabaya dan masing-masing dua orang ke Lapas Malang dan Lapas Madiun,” ujar Wisnu.

BACA JUGA :  Wabup Subandi Selesaikan Polemik Akses Jalan Perumahan di Desa Bligo Candi 

Wisnu menjelaskan bahwa ketujuhnya masih belum menyatakan ikrar kepada NKRI. Sehingga, ketiganya ditaruh di lapas yang memang selama ini sering berhasil membuat WBP teroris kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

“Dengan pendekatan kemanusiaan, akan kami upayakan agar secepatnya ketujuhnya bisa kembali ke NKRI,” harapnya.

BACA JUGA :  Kasus Pungli PTSL yang Menjerat Kades Suko Sukodono dan 3 Perangkatnya Segera Disidangkan

Pria asal Semarang itu menjelaskan bahwa pihaknya akan menggencarkan peran pendamping/ pamong khusus WBP kasus terorisme. Pamong-pamong ini selama ini dilatih untuk melakukan pendekatan dan pembinaan khusus. Sehingga, WBP bisa cepat menyatakan ikrar ke NKRI.

“Setiap lapas ada pamong khusus yang melaporkan setiap perkembangan, jadi pasti terpantau,” urai Wisnu.

BACA JUGA :  Dua Motor Tabrakan di Jalan Singkalan Balongbendo, 1 Pengendara Luka Serius

Selama ini, lapas di Jatim tercatat telah membina 82 WBP khusus kasus terorisme. Dengan 35 diantaranya telah bebas dan 9 dipindahkan ke Lapas High Risk Batu, Nusa Kambangan.

“Yang bebas dari Jatim itu mayoritas sudah menyatakan ikrar kembali NKRI, yang sulit dibina, kami pidahkan ke Nusa Kambangan dengan alasan keamanan dan ketertiban lapas,” terang Wisnu. (cles)