SIDOARJO TERKINI
Headline Indeks Politik & Pemerintahan

SKK Migas Sebut Yang Protes Pengeboran Lapindo Hanya Orang Jakarta

Evakuasi alat berat dari lokasi sumur migas Lapindo di Desa Kedungbanteng, Tanggangin
Evakuasi alat berat dari lokasi sumur migas Lapindo di Desa Kedungbanteng, Tanggangin

(SIDOARJOterkini)- Meski pengurukan area sumur migas milik Lapindo Brantas Inc sudah dihentikan. Namun, beritanya terus menggelinding.

Dilansir dari tempo.co, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyayangkan adanya protes terhadap rencana PT Lapindo Brantas mengebor sumur gas di Tanggulangin 6 dan 10, di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.

“Karena pemahaman publik kan awam. Ini pengeboran di Tanggulangin, yang bersuara justru orang mana-mana, orang Jakarta,” kata Kepala Humas SKK Migas Elan Biantoro, Senin ( 11-1- 2016)

Menurut Elan, SKK Migas mengizinkan perusahaan itu melakukan pengeboran karena semua prosedur telah dilewati Lapindo, yang masih memiliki hak di Blok Brantas hingga tahun 2020. Artinya, kata dia, Lapindo masih mempunyai hak melakukan pengeboran gas di Tanggulangin.

Elan menjelaskan aktivitas pararel itu dimaksudkan supaya menekan cost perusahaan pengeboran. Dia mencontohkan biaya sewa rig. Bila pengeboran tidak segera dilakukan, sedangkan rig sudah ada, perusahaan akan rugi.

BACA JUGA :  Jadi Tahanan Pengadilan, Sopir Vanessa Dipindahkan Ke Lapas Jombang

Senada dengan SKK Migas, Direktur Jenderal Migas IGN Wiratmaja menjelaskan tak ada persoalan dengan pengeboran sumur gas oleh Lapindo. “Tidak ada pelanggaran, semua masih dalam prosedur,” kata Wiratmaja melalui pesan pendek.

BACA JUGA :  Dua Sepeda Motor Tabrakan di Depan SPBU Sidorejo Krian, Dua Orang Luka-luka

Meski telah sesuai dengan prosedur dan mempunyai hak, pengeboran Lapindo di Tanggulangin 6 dan 10 dihentikan sementara. Ini dilakukan setelah aktivitas pengeboran menjadi isu nasional. Elan meminta Lapindo mensosialisasikan lebih luas lagi agar aktivitas tersebut tidak menuai polemik.

Elan mengatakan sebenarnya Lapindo telah mensosialisasikan pengeboran kepada masyarakat sekitar. Masyarakat lokal pun telah menerima dengan baik. Bahkan, dia menyebut tidak benar ada pemblokiran warga lokal di sekitar sumur pengeboran sebagaimana diberitakan media massa, ataupun ada mobilisasi tentara atau polisi untuk mengintimidasi masyarakat.

BACA JUGA :  Ketua TP PKK Sidoarjo Serahkan Bantuan CSR ke Delapan Desa Finalis Sidoresik

Namun, karena telah jadi isu nasional, SKK Migas meminta pengeboran dihentikan sembari dilakukan sosialisasi lebih luas. Sosialisasi di antaranya menyangkut aspek keamanan.

Pengeboran sumur di Tanggulangin 6 dan 10, kata Elan, dilakukan pada kedalaman 1.200 meter. Sedangkan pada sumur lama ada di kedalaman 1.700-2.500 meter. Dari kenyataan ini, kata Elan, dua sumur tersebut tidak mungkin menembus zona sumur yang lama. Selain itu, jarak dengan sumur lama adalah 4 kilometer. (st-12/dilansir dari TEMPO.CO)