SIDOARJO TERKINI
Headline Indeks Pendidikan & Kesehatan

Sidoarjo Kekurangan Pengajar Anak Berkebutuhan Khusus

(SIDOARJOterkini) Jumlah tenaga pengajar anak berkebutuhan khusus (ABK) di Sidoarjo masih kurang. Seperti di UPTD Pelayanan Anak Tuna Rungu Tuna Wicara dan Autis Pemkab Sidoarjo hanya10 tenaga pengajar.

Padahal, mereka harus mengurusi 71 anak ABK yang berada di UPTD tersebut. Idealnya satu pengajar hanya bisa memberikan pelajaran bagi satu siswa.

Karena terbatasnya guru, UPTD masih terbatas dalam menerima siswa. Saat ini pun, masih ada 15 ABK yang waiting list untuk masuk di UPTD.

Sebanyak 10 pengajar ABK tersebut telah melakukan study ke Australia Barat. Di Negeri Kanguru tersebut, para pengajar mendapatkan pelatihan gratis dari Autism Association Western Australia (AAWS) tentang bagaimana mengurusi ABK dengan penuh keluwesan dan kesabaran.

BACA JUGA :  Karyawati Minimarket di Balongbendo Laporkan Atasannya Ke Polisi Usai Dilecehkan

Bahkan, dua perwakilan dari AAWS yakni CEO AAWS Joan Mc Kenna Kerr dan Direktur Clinical and Therapy Servise Tasha Alach berkunjung ke Sidoarjo. Mereka melihat secara langsung kondisi gedung dan metode pengajaran yang telah dilakukan.

Wakil Bupati Sidoarjo MG Hadi Sutjipto mengatakan, saat ini tenaga pengajar ABK di Sidoarjo memang jumlahnya masih kurang. Apalagi jika gedung autis center yang saat ini dibangun sudah rampung akan lebih membutuhkan tenaga pengajar yang banyak.

BACA JUGA :  Pererat Silaturahmi, Danramil 0816/11 Tarik Hadiri Halal Bihalal Bersama Forpimka

Hadi Sutjipto menambahkan, 2016 autis center sudah bisa ditempati. Tentu saja membutuhkan tenaga pengajar yang lebih banyak lagi.

Sedangkan terkait kerjasama dengan AAWS juga sangat penting. Apalagi, tenaga pengajar juga membutuhkan pengalaman yang khusus untuk mengajar ABK dengan baik. “Di Australia Barat sistem pengajaran siswa ABK sangat bagus. Patut dicontoh oleh Sidoarjo,” jelas Hadi Sutjipto.

Sementara itu, Kepala UPTD Pelayanan Anak Tuna Rungu Tuna Wicara dan Autis, Nanik Sumarviati mengatakan, seharusnya satu ABK ditangani oleh satu pengajar. Tapi itu belum bisa dipenuhi karena keterbatasan guru. “Sampai ada yang harus nunggu untuk masuk di UPTD,” ujarnya.

BACA JUGA :  Sebuah Motor Raib Digondol Maling, Saat Pemiliknya Halal Bihalal di Balonggabus Candi

Untuk mendampingi ABK memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Karena itu, pelatihan memang sangat penting untuk memberikan skill mumpuni bagi tenaga pengajar.

Sedangkan CEO AAWS Joan Mc Kenna Kerr berharap agar pembelajaran bisa dilakukan terus menerus sehingga ABK di Sidoarjo bisa terfasilitasi dengan baik. “Pengajar disini (UPTD) pernah belajar ke Australia,” ujarnya. (st-12)