SIDOARJO TERKINI
Gaya Hidup & Romantika Headline Indeks

Rawan Kecelakaan “Hanoman” Seberangkan Pejalan Kaki

image

(GEDANGANterkini)- Sering terjadinya kelakaan di depan Makro Pepelegi-Sawotratap, membuat Yoyok (54) warga Sawotratap, Gedangan, rela jadi jasa penyeberang jalan.

Uniknya, kostum yang pakai setiap harinya, berganti-ganti, mulai pakaian tradisional, tokoh pewayangan, pejabat dan lainnya serta selalu membawa bendera merah putih. Rias wajah yang ditampilkan juga disesuaikan dengan pakaian yang yang dipakai.

Yoyok mengaku sengaja menarik perhatian dengan memakai pakaian kesenian, agar para pengendara yang melintas, terbelalak memperhatikan dan mau mengurangi kecepatan dan berhenti kala ada yang ia bantu menyebrang

“Saat menyebrangkan warga, tidak asal lansung menyebrangkan. Tapi saya pilih kalah kondisi arus lalin rada sepi atau volume kendaraan tidak padat,” ucapnya, Jumat (15/5/2015)

Dalam jasanya ia tak hanya membantu warga yang menyebrang saja. Melainkan juga ikut bersedia membantu memecah kelancaran lalin saat terjadi kemacetan.

BACA JUGA :  Seorang Residivis Babak Belur Dimassa Saat Curi Kambing di Kalanganyar Sedati

Yoyok menuturkan, pakaian yang dipakai setiap harinya, mempunya arti secara tersirat didalamnya. Seperti pakaian wayang, agar masyarakat tetap cinta, menjaga dan melestarikan budaya para leluhur.

Pakaian kesenian kuda lumping, agar masyarakat tetap melestarikan diantara budaya Indonesia. Sedangkan pakaian compang-camping yang dikenakan, agar pejabat dan pemerinta peduli dengan nasib orang kecil atau kaum jelata.

BACA JUGA :  Upaya Merawat Keberagaman, Kemendikbudristek Gelar Sarasehan Anggoro Kasih di Pondok Pesantren

“Kalau saya memakai pakaian pejabat, agar seyogjanya, pejabat itu dekat dengan masyarakat dan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat,” papar pegiat seni kudalumping, ketoprak dan ludruk itu.

Jasa yang dilakukan ini, diniati bagian dari untuk membantu masyarakat, bukan material atau mencari uang. Bagi Yoyok, mencari uang itu akan tiada hentinya. Tetapi mencari pahala itulah yang harus menjadi tujuan utama hidup.

“Saya tetap mensyukuri, meski sehari tidak menadapatkan sedekah uang sepeserpun, dibawah senilai Rp 10 ribu dalam sehari, saya mensyukuri dan besoknya tetap bersedia membantu masyarakat,” imbuh suami Ismiyati yang sudah menekuni jasa itu sejak 6 bulan lalu itu.

BACA JUGA :  Polisi Amankan Empat Pelaku Pengeroyokan Seorang Pendekar Hingga Tewas di GOR Delta

Selain menjadi jasa penyebrang, malamnya dia gunakan bekerja sebagai pemain hiburan kuda lumping, ikut pegelaran ketoprak dan ludruk. “Prinsip hidup, harus tetap semangat bekerja, jujur, pandai bersyukur dan ringan tangan, pasti akan menemukan arti kehidupan,” tutur Yoyok. (st-13)