SIDOARJO TERKINI
Ekbis Headline Indeks

Kisah Sukses Sudarsono “Menyulap” Blotong Tebu Menjadi Pupuk Organik

img_20161108_090647

(SIDOARJOterkini)-Bertujuan mengurangi dampak kerusakan lingkungan jika menggunakan pupuk berbahan kimia. Pria asal Desa Kludan, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo berhasil mengolah limbah yang berlimpah di pabrik gula dan kotoran sapi menjadi pupuk organik.

Sampah organik seperti kotoran sapi dan blotong tebu yang selama ini menjadi polemik dimasyarakat karena bisa mencemari lingkungan dan menimbulkan bau busuk. Di tangan yang tepat blotong dapat menghasilkan rupiah.

Dia adalah Sudarsono 35 tahun, bersama tiga puluh karyawan yang merupakan warga sekitar. Bapak dua anak ini “menyulap” limbah pabrik gula tebu atau bisa disebut blotong menjadi pupuk organik yang memiliki nilai ekonomis.

”memang awalnya coba-coba, tetapi lamban laun banyak petani yang menyukai pupuk organik daripada pupuk berbahan kimia. Saat itu sekitar tahun 2013 dengan modal awal 500 juta utang di Bank. Dengan ucapa bismillah saya memulai usaha pengolahan pupuk organic,” pungkas pria yang sebelumnya mengaku sebagai pengerajin tas dan kulit ini.

BACA JUGA :  Pererat Silaturahmi, Danramil 0816/11 Tarik Hadiri Halal Bihalal Bersama Forpimka

C organic adalah kompos paling banyak kandungannya, terdapat pada blotong. Maka blotong digunakan sebagai bahan baku utama pupuk organik, untuk segala macam tanaman. Dikarenakan blotong mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanah.

Tata cara proses pembuatan blotong menjadikan pupuk organik cukup mudah dan sederhana. Langkah pertama blotong harus dijemur kurang lebih selama 7 hari. Setelah proses pengeringan selesai, blotong tersebut dibawa menuju tempat pengolahan.

Selanjutnya tahap dua yakni tempat mixing (pencampuran) bahan baku antara Blotong dengan KS (Kotoran Sapi), dan Kaptan (Kapur Pertanian). Sedangkan Kaptan berfungsi untuk mengurangi PH, serta mengurangi ke asaman tanah.

BACA JUGA :  Karyawati Minimarket di Balongbendo Laporkan Atasannya Ke Polisi Usai Dilecehkan

Dan ditambah lagi bahan baku lain, yaitu Mixtro 1 % (bahan mikroba bakteri dari Petrokimia). Ketiga bahan baku itu, bercampur menjadi satu. Tahap berikutnya adalah pengadukan, dengan cara manual agar mendapatkan hasil yang bagus.

“Setelah pengadukan rata, ketiga bahan baku dimasukkan kedalam pan generator (pembutiran) dan langsung masuk ke drayer (mesin pengeringan), setelah itu masuk ke mesin Culer (mesin pendingin). Dari pencampuran bahan baku, hingga proses akhir pengemasan menjadi pupuk dan penyebaran pupuk ke tanah membutuhkan waktu 45 menit,“ ucap suami Khotimah ini.

Pupuk organik, selama ini dipergunakan oleh petani dari Jawa dan Bali. Pupuk organik yang dikelolahnya ini dalam sebulan bisa menghasilkan 1000 ton atau setara dengan uang 1 milliar rupiah. Setiap satu bulan sekali pupuk organik made in PT Nito Nur Utama ini di kirim ke pabrik besar seperti Petrokimia, di Gresik.

BACA JUGA :  Sebuah Motor Raib Digondol Maling, Saat Pemiliknya Halal Bihalal di Balonggabus Candi

Tidak hanya pada tanaman maupun tumbuhan lain, pupuk organik buatan Sudarsono ini juga dipakai para petani tambak untuk ditaburkan ke area tambak sebelum kolam di isi benih ikan.

Kerja kerasnya kini, menuai pujian Sudarsono juga membantu mayarakat sekitar yang sebelumnya menganggur kini mendapatkan pekerjaan. Tidak hanya itu, perannya yang dilakukannya saat ini turut membantu program pemerintah tentang swasembada pangan mewujudkan ketahanan pangan nasional. (st-12/ist)