SIDOARJO TERKINI
Headline Indeks Pendidikan & Kesehatan

Inilah Kerajinan Hasil Karya Difabel Cinta asal Sidoarjo

Kaligrafi hasil karya komunitas difabel Cinta
Kaligrafi hasil karya komunitas difabel Cinta

(SUKODONOterkini) – Keterbatasan fisik, bukan berarti diam dan membatasi kreatifitas dalam berkarya. Tanpa keinginan dan kemauan, kesuksesan akan sulit untuk diraih. Kini saatnya kaum Different Ability (Difabel) menjadi sosok yang mandiri dalam berkarya.

Berikut motifasi pendiri Lembaga Cahaya Inklusi Nusantara (Cinta), Eka Pratama kepada Sidoarjoterkini.com saat ditemui di Sekretariat di Jalan Suko Legok, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Kamis (24-03-2016).

Ditempat dengan ukuran 7×10 meter2 yang diperoleh dari pihak donatur dari kalangan pengusaha ini, 10 pekerja Difabel mengasah kreatifitasnya dalam membuat berbagai macam hiasan dinding seperti, kaligrafi, kaca hias, lampu hias dan yang lainnya.

Dalam sebulan, 10 pekerja Difabel binaannya ini mampu menghasilkan 1000 item. Hasilnya pun tak kalah dengan kualitas pabrik, baik dari segi kerapian maupun mengkolaborasikan warna satu dengan warna yang lain. Untuk harga yang paling murah dijual 200 ribu, sedangkan yang paling mahal hanya 400 ribu. “Penjualannya melalui door to door. Untuk saat ini kita coba melalui online,” ujarnya.

Lembaga yang berdiri sejak November 2015 lalu ini, juga sering mengikuti even-even pameran. Selama ini, dirinya baru memasarkan hasil karyanya diwilayah Jawa Timur. “Dikawasan Jawa timur saja. Kemarin kita dapat orderan dari Jakarta. Targetnya sih harus bisa ekspor,” tambanya.

BACA JUGA :  Disaksikan Irjen, Satker Pemasyarakatan Korwil Surabaya Deklarasikan Pelayanan PASTI dan BerAKHLAK

Cahaya Inklusi Nusantara ini, lanjut Eka, satu-satunya tempat kreatifitas para difabel di kawasan Sidoarjo. Rencananya, dia akan membentuk suatu lembaga yang lebih besar yakni Pusat Inklusi Jatim (PIJ). “Tujuannya agar kaum difabel bisa menjadi wirausahawan melalui potensi yang mereka miliki,” paparnya.

Sementara itu, Ahmad Fanani (21), warga Mojokerto, salah satu dari 10 difabel yang ikut pelatihan selama tiga bulan di lembaga ini terlihat mahir meski hanya menggunakan satu tangan. “Ternyata mudah, hanya dengan satu tangan bisa menggunting beberapa pola yang ada di kertas,” Terangnya.

BACA JUGA :  Kuliner Baru Mie Gragas Siap Saingi Gacoan

Fanani adalah penyandang Tuna Daksa. Tangan kanannya terpaksa di amputasi karena mengalami kecelakaan di tempat usaha batu bata ayahnya pada waktu duduk di bangku SMP silam. Dirinya mengikuti pelatihan ini berawal saat mendapat ajakan dari temannya.

Hal serupa bagi Sugeng Hariadi (41), warga Desa Transat, Kecamatan Sumber Manjing, Malang mengaku senang dengan adanya lembaga seperti ini. Menurutnya, bagi kaum difabel akhir-akhir ini merasa kesulitan dalam hal mencari pekerjaan.

“Awalnya diajak teman, terus saya iya kan karena ini merupakan kesempatan menurut saya. Sebelumnya saya bekerja di pabrik sepatu karena tidak masuk dua kali karena sakit, saya diberhentikan,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pencuri di Sukodono Berhasil Kabur Dengan Ledakkan Bom Bondet Saat Ditangkap Warga

Sementara itu Emilia Contessa, anggota DPD asal Jatim yang saat itu meninjau lokasi sangat mengapresiasi dengan adanya lembaga ini. Karena pendiri Cinta ini mempunyai gagasan ide yang luar biasa. Sehingga para kaum difabel dengan ide yang seperti ini membuat mereka mandiri juga betul-betul memberdayakan mereka.

“Dengan lembaga semacam ini, sudah mandiri bagi saya. Harapannya agar pemerintah lebih memperhatikan, Karena undang-undang sudah mengatur terkait hal ini. Selain itu, mereka juga mempunyai hak yang sama seperti warga negara yang lain,” Terang Emilia Contessa, anggota DPD dari Jawa Timur.(alf)