
SIDOARJOterkini – Sebanyak 160 calon pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Krian resmi dikukuhkan menjadi anggota penuh melalui prosesi baiat yang berlangsung khidmat di Pendopo Giri Kedaton, Pondok Pesantren Al Amanah, Desa Junwangi, Kecamatan Krian, Minggu malam (10/1/2026).
Prosesi sakral tersebut menjadi titik awal pengabdian para pendekar muda dalam keluarga besar Pagar Nusa. Melalui ikrar baiat, mereka menyatakan kesetiaan, ketaatan, serta kesiapan memegang teguh nilai-nilai organisasi yang berlandaskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Baiat ini sekaligus menegaskan peran pendekar Pagar Nusa sebagai penjaga akidah Aswaja, benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta pelindung para ulama dan kiai Nahdlatul Ulama.
Pembina Pagar Nusa Krian, Gus Muslikin, menyampaikan bahwa agenda baiat dirangkai dengan kegiatan keagamaan serta peringatan hari lahir Pagar Nusa yang bertepatan dengan Harlah NU. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana konsolidasi kader sekaligus penguatan sanad keilmuan dan spiritual.
“Alhamdulillah, malam ini kita membaiat 160 pendekar baru. Setiap tahun jumlahnya relatif stabil, sekitar 120 orang. Ini menandakan Pagar Nusa Krian terus berkembang dengan sanad keilmuan yang tetap terjaga,” ujarnya.
Sejak 2019, lanjut Gus Muslikin, jumlah pendekar Pagar Nusa Krian telah mencapai sekitar 1.300 orang. Pola pembinaan tidak hanya menitikberatkan pada aspek mental dan spiritual, tetapi juga diarahkan pada peningkatan prestasi olahraga pencak silat.
“Kami mendorong para pendekar untuk berani berprestasi dan bertanding secara sportif. Namun, khidmah kepada NU tetap menjadi fondasi utama,” tegasnya.
Ia pun berharap para pendekar mampu menorehkan kesuksesan, tidak hanya di arena pertandingan, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.
“Mereka harus menjadi pribadi yang bermanfaat dan memberi kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Krian, Muhaimin, menegaskan bahwa menjadi pendekar Pagar Nusa bukan sekadar soal kemampuan bela diri. Menurutnya, tanggung jawab utama pendekar adalah menjaga NKRI, merawat akidah Aswaja, serta menjunjung tinggi akhlakul karimah.
“Pendekar Pagar Nusa bukan untuk pamer kekuatan. Mereka harus siap menjaga NKRI dan Aswaja, dengan mengedepankan akhlak dan kerukunan,” ujarnya.
Muhaimin juga mengapresiasi Pondok Pesantren Al Amanah yang telah menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Ia berharap para pendekar Pagar Nusa kelak tumbuh menjadi figur pemimpin yang berkarakter, berakhlak mulia, serta mampu menjadi penyejuk di tengah dinamika sosial masyarakat.
“Di saat konflik dan tawuran masih terjadi, pendekar Pagar Nusa harus hadir membawa nilai damai dan persatuan,” pungkasnya.(cles)
