
SIDOARJO1 – Sebanyak 95 persen Sapi yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Krian berasal dari luar Kabupaten Sidoarjo. Hal tersebut diungkapkan Drh Erwin Priatmoko Kepala RPH Krian dalam sebuah wawancara dengan SIDOARJOterkini.com.
Dijelaskan Drh. Erwin hal tersebut dikarenakan karena populasi sapi di Sidoarjo tidak banyak dan kebutuhan daging di Sidoarjo sangat tinggi.
“Apalagi setelah ada wabah PMK pada ternak sapi, jumlah sapi di Sidoarjo turun drastis dan peternak Sidoarjo lebih banyak yang mengutamakan sapinya untuk dijual saat hari raya kurban,”ungkapnya.
Dijelaskannya, RPH Krian yang terdiri dari pemotongan secara konvensional dan modern, setiap harinya menyembelih sapi sekitar 30 hingga 40 ekor. Kebanyakan sapi yang disembelih berasal dari wilayah Mojokerto, Nganjuk, Kediri bahkan dari Banyuwangi.
“Daging yang dihasilkan akan dijual ke pasar-pasar wilayah Sidoarjo, Gresik dan Surabaya,”ucapnya.
Pihak RPH Krian melakukan pengetatan yang menjadi aturan terhadap ternak yang masuk RPH, diantaranya kondisi sapi harus sehat dan yang boleh disembelih hanya sapi jantan dan sapi betina yang sudah tidak produktif. Hal tersebut dilakukan agar daging yang dihasilkan halal dan aman serta tidak terkena penyakit.
“Jam masuk RPH pun ditentukan hingga pukul 19.00 WIB, karena sapi setelah menempuh perjalanan jadi harus diistirahatkan dulu sebelum disembelih,”ujarnya.
Tentang banyaknya pemotongan sapi liar tambah Erwin, hal tersebut bukan ranahnya untuk menyikapinya. Menurutnya itu tugas dari dinas dan APH (aparat penegak hukum) yang akan melakukan penindakan.
“Meski pihak dinas bersama APH telah berkali-kali melakukan penindakan namun keberadaan tempat pemotongan sapi liar masih ada,”tandasnya.(cles)
