Tingkatkan Hasil Panen, BHS – Taufiq Siap Jadikan Sidoarjo Lumbung Padi

Oktober 21, 2020

 

Cabup Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) berdialog dengan para petani yang panen padi di Desa Segodobancang, Kecamatan Tarik, Sidoarjo.

(SIDOARJOterkini) – Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati, Bambang Haryo Soekartono – M Taufiqulbar (BHS-Taufiq) siap menjadikan Sidoarjo sebagai daerah lumbung padi. Sejumlah wilayah yang sebelumnya, hanya bisa dua kali panen bakal didorong agar bisa panen minimal tiga kali. Bahkan bakal diupayakan agar petani bisa panen padi empat kali dalam setahun.

“Para petani panen hanya dua kali setahun. Setiap musim kemarau susah mendapat pasokan air. Padahal air dari Brantas mengalir dengan bagus. Bahkan di musim kemarau debit airnya juga mencukupi. Ini yang bakal saya kawal. Termasuk soal manajemen pintu air yang sering terjadi kesalahan. Mulai banyak pintu air tak dikendalikan dan sebagian dibiarkan rusak,” ujar Cabup BHS, usai berdialog dengan para petani di Desa Segodobancang dan Desa Kemuning, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, Selasa 20 Oktober 2020.

Begitu juga soal stok pupuk. Menurut Cabup Nomor urut 1 yang juga mantan anggota DPR RI ini, selama ini petani selalu kesulitan mendapatkan pasokan pupuk saat musim tanam. Akan tetapi saat masa panen pupuk bersubsidi justru melimpah. Pihaknya bakal mengawal distribusi pupuk bersubsidi agar sampai ke petani dengan catatan panen tiga kali sesuai dengan harapan Presiden RI, Jokowi. Apalagi, Jokowi sudah menggelontorkan pupuk untuk lahan 11 juta hektar dengan hitungan tiga kali masa panen.

BACA JUGA :  Bagian dari Transformasi, Bank Bukopin Luncurkan Code of Ethics Terbaru

“Kenyataannya di lapangan, banyak petani yang hanya satu sampai dua kali panen setahun. Kenapa stok pupuk susah didapatkan. Ini harus diselesaikan hingga ke Menteri Pertanian. Pupuk bersubsidi ini akan saya kawal agar bisa sampai ke petani dengan harga subsidi sebenarnya. Yakni bukan seharha Rp 100.000 tapi Rp 80.000,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, kata Cabup yang diusung 5 partai ini pihaknya juga bakal memberikan bantuan bibit untuk petani. Dia mencontohkan untuk petani Desa Segodobancang yang biasanya menggunakan bibit Serang, maka bakal diberi bantuan bibit itu. Apalagi, bibit padi Serang dalam tiga bulan petani bisa panen. Jika diterapkan maka tidak menutup kemungkinan para petani di Sidoarjo bakal bisa panen empat kali dalam setahun.

BACA JUGA :  Di Era Kelana Astutik Nanti Tidak Ada Lagi Jalan Desa Tak Layak

“Harusnya petani bisa panen empat kali setahun atau minimal tiga kali dan maksimal empat kali setahun. Hasil panennya juga tidak boleh kurang dari delapan ton dalam setiap hektar. Meski sekarang kebanyakan petani hanya mendapatkan 4 sampai 6 ton per hektar. Termasuk soal hama itu bukan tugas petani. Pemberantasan hama itu tugasnya pemerintah. Bagaimana hama tikus dan wereng harus bisa diselesaikan melalui para petugas penyuluh lapangan (PPL) pertanian,” tegasnya.

Sedangkan soal pemasaran hasil panen, lanjut Alumnus ITS Surabaya ini harus bisa dimanfaatkan warga Sidoarjo sendiri. BHS tidak mau seperti sekarang ini, saat ke pasar kebanyak pasokan beras berasal dari Lamongan maupun Pacet (Mojokerto) dan sejumlah daerah lainnya.

“Itu tidak boleh lagi. Kita harus menggunakan beras Sidoarjo. Nanti kalau jadi bupati, akan saya keluarkan
himbauan ke masyarakat untuk membeli beras dari Sidoarjo,” jelasnya.

BACA JUGA :  Cakades di Kecamatan Wonoayu Meninggal Dunia, Bagaimana Mekanisme Pencalonannya

Bahkan BHS juga bakal memberikan subsidi ke petani yang gagal panen melalui program asuransi pertanian. Hal ini lantaran gagal panen dapat disebabkan berbagai penyebab. Mulai hama hingga terpaan angin kencang yang memicu padi roboh dan hasil panennya hitam.

“Petani Sidoarjo harus bisa mengasuransikan tanaman padinya. Saya akan mengusahakan subsidi untuk meringankan biaya asuransi. Kalau iurannya Rp 50.000 maka akan disubsidi Rp 25.000. Kami siap memberikan jaminan kesejahteraan petani yang bakal selalu ditingkatkan,” paparnya.

Sementara agar Sidoarjo tidak minim generasi yang mau bercocok tanam dan bertani, BHS – Taufiq bakal membuat terobosan agar petani mau mengajar ekstrakurikuler di SD dan SMP. Alasannya, karena ilmu petani sangat langkah yang biasanya sangat dihargai di negara maju seperti di Amerika dan Jepang petani paling sejahtera.

“Saat petani longgar, tidak masa panen atau masa tanam akan diajak mengajar ekstrakurikuler mulai pelajar SD hingga SMP agar mau bertani. Bahkan petani juga bisa mengajarkan ilmu bertani sekaligus menjadi guru dan bahkan profesor pertanian bagi para pelajar Sidoarjo,” tandasnya. (st12/cles)