Desa Kedungcangkring Jabon, Salah Satu Penghasil Batik Tulis Tertua di Sidoarjo

Oktober 2, 2020

 

Pengrajin batik tulis Kedungcangkring Jabon

(SIDOARJOterkini) – Hari ini, 02 Oktober 2020 ditetapkan sebagai ‘Hari Batik Nasional’. Di Kabupaten Sidoarjo ada sejumlah pengrajin Batik Tulis di Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon yang sudah ada sejak sebelum Indonesia Merdeka.

Saat ini, ada sekitar 10 pengrajin batik tulis yang masih bertahan sampai sekarang. Salah satunya ialah Lutfilah asal dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Jabon yang masih eksis membuat beragam motif batik sesuai dengan perkembangan zaman.

“Pengrajin batik disini itu rata-rata adalah warisan dari turun menurun. Karena batik disini sudah ada sejak zaman Indonesia belum merdeka,” Kata Lutfilah saat dikonfirmasi SIDOARJOterkini.com, Jumat 02 Oktober 2020.

Lutfilah menerangkan, bahwa Batik tulis kedungcangkring mulai berproduksi sebelum tahun 1940, bahkan dulu pernah masuk balai besar batik Indonesia yang ada di Jogjakarta.

Ciri khas batik tulis kedungcangkring mempunyai berbagai motif mulai dari motif beras utah atau berasa jatuh, motif sisik melek atau mirip dengan sisik ikan bandeng dan motif krubutan.

“Batik Tulis Kedungcangkring memiliki motif tersendiri, salah satunya beras utah dan lainya,” ungkapnya.

Sementara, Zaenudin Fanani Tokoh masyarakat setempat menceritakan sejarah batik jetis dan batik kenongo maupun batik-batik yang tersebar diwilayah sidoarjo merupakan asal dari pengerajin batik kedungcangkring jabon sidoarjo.

“Bahkan batik pekalongan jawa tengah juga berasal dari desa kedungcangkring kecamatan jabon sidoarjo,” Tegas Zaenudin.

Konon, warga pekalongan dulunya belajar membatik dari pengerajin batik tulis kedungcangkring sambil pengenyam pendidikan mondok disalah satu pondok pesantren tertua di wilayah jabon sidoarjo.

Setelah mempunyai bekal membatik, merekapun kembali kedaerahnya masing-masing untuk mengembangkan batik tulis yang berasal dari kedungcangkring.

Saat ini kondisi pengerajin batik tulis kedungcangkring berjumlah 10 orang pengerajin,2 masih aktif membuat batik.

“Kondisi tersebut disebabkan ongkos kerja dalam pembuatan batik terlalu mahal sehingga banyak pengerajin yang gulung tikar seiring adanya persaingan batik printing karena lebih murah,” pungkasnya. (Pung/cles)