Dinkes Sidoarjo Lakukan Rapid Test 500 Warga Klaster Waru

Mei 19, 2020

 

(SIDOARJOterkini) – Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo melakukan tracing dan rapid tes massal di RW 12, 13 dan 14 Desa/Kecamatan Waru Sidoarjo. Hal ini dilakukan terkait temuan kasus positif virus Corona yang cukup tinggi.

“Hari ini kami lakukan rapid tes terhadap 500 warga RW 12 yang sebaran covid-19 paling tinggi, sedangkan untuk RW 13 dan 14 akan dilakukan selanjutnya,” Kata drg. Syaf Satriawarman Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo kepada SIDOARJOterkini.com, Senin 18 Mei 2020.

Sambil menunggu hasil dari rapid tes tiga wilayah tersebut saat ini dilakukan karantina atau lockdown lokal oleh pemerintah setempat

“Kami terus melakukan tracking, karena awal mula sebaran kasus ini adalah ketika
salah seorang warga menghadiri sebuah acara tahlilan tetangga. Pasca dari tahlilan tersebut, yang bersangkutan meninggal dunia. Namun yang bersangkutan tidak ada indikasi covid-19,” jelas dr. Syaf

Ia menambahkan, kasus ini diketahui pertama kali setalah beberapa hari istri dan anaknya terkonfirmasi positif covid-19. Inilah klaster sebaran virus Corona di Kecamatan Waru di mulai.

“Saat ini diketahui ada 15 orang terkonfirmasi positif, dan juga 12 orang reaktif saat di rapid tes,”ungkapnya.

Saat dikonfirmasi terkait ramainya kabar warga yang membuka peti jenazah covid-19, dr. Syaf menegaskan itu berada di Desa Pepelegi Kecamatan Waru, jadi ini kasus yang berbeda. Untuk kasus yang terjadi di Pepelegi saat ini Dinkes sedang melakukan tracing disekitar kawasan tersebut

“Sudah terkonfirmasi benar peti matinya dibuka, disalatkan dan dimakamkan. Proses pemakamannya dilakukan oleh keluarga dan relawan yang tidak memakai baju hazmat,” ungkapnya.

Lebih lanjut Syaf menjelaskan bahwa dari kejadian tersebut terbukti 17 orang dari keluarga dan tetangga yang ikut membantu prosesi pemakaman ketika di rapid hasilnya reaktif dan masih menunggu hasil swabnya

Terkait arahan untuk tidak membuka peti, menurut Syaf, hal tersebut merupakan kewajiban Rumah Sakit yang merawat untuk memberikan informasi. Namun hal tersebut menurut Syaf belum bisa dijadikan kategori klaster baru karena masih menunggu hasil swab dari 17 orang tersebut.

“Informasi, Edukasi itu harusnya diberikan oleh pihak rumah sakit kepada keluarganya, tapi bisa saja juga dari pihak keluarga yang merasa kalau di peti mati ketika disholatkan kurang sempurna atau bagaimana sehingga dibukalah peti itu,” pungkasnya

Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Sumardji bersama puluhan personilnya dan anggota TNI  tampak ikut melakukan penjagaan di sana. Semua kendaraan yang melintas diperiksa. Warga setempat dilarang keluar atau masuk.

“Isolasi mandiri dilakukan untuk menekan penyebaran covid-19.  Selama proses karantina, semua kebutuhan warga dicukupi,” kata Sumardji.(pung/cles)