Proses PK Masih Berlangsung, LBH Wong Cilik Minta Tidak Saling Klaim Kepemilikan Tanah

Februari 27, 2019

(SIDOARJOterkini) – Tanah seluas 29,19 hektare di Desa Banyu Urip, Kecamatan Kedaeman, Gresik saat ini masih dalam sengketa kepemilikan dan dalam proses peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung. Untuk itu pihak ahli waris Bernadine Hendrika (Betty) meminta agar tidak ada saling klaim kepemilikan tanah tersebut.

Penasihat hukum Betty dari Lembaga Bantuan Hukum (lbh) Wong Cilik, Jafaruddin Abdullah mengatakan, meski PT Kasih Jatim memiliki dua bukti sertifikat tanah di Banyu urip, namun pihaknya masih mengajukan PK terkait sengketa tanah tersebut.

“Novum yang kami sampaikan dalam PK semuanya baru dan otentik,” kata Jafaruddin, Rabu (27/2/2019) di kantor LBH Wong Cilik, Sedati.

Dia mengungkapkan, karena masih terjadi sengketa milik, maka diharapkan PT Kasih Jatim tidak mengklaim kepemilikan terhadap tanah tersebut. “Kita tunggu keputusan hingga inkrah,” terangnya.

Menurutnya, dalam putusan MA tidak ada satu pun ayat yang menyatakan jika tanah tersebut milik PT Kasih Jatim. Namun, sengketa itu harus diselesaikan dalam kasus perdata. Karena itu diharapkan, proses hukum terkahir melalui PK bisa ditunggu sehingga tidak ada klaim dari pihak manapun.

“Kita menghargai hukum dan menunggu hasil PK,” ujarnya.

Ricky Gusnanto anak dari Betty menambahkan, novum yang dilampirkan dalam PK berisi lima bukti baru. Di antaranya, surat bukti kepemilikian mutlak eigendom atas nama Rasmani yang merupakan nenek dari Beety. Surat tersebut dikeluarkan oleh kantor pendaftaran tanah pemerintah Hindia Belanda tangal 24 Juli 1933.

Selain itu, juga diserahkan acte van eigendom verpondings nummer 148 atas nama Rasmani. Surat itu dikeluarkan oleh Dewan Kehakiman Pemerintah Hindia Belanda tanggal 15 Juli 1938. “Bukti otentik yang kami jadi dasar bukti,” ucapnya.

Direktur LBH Wong Cilik Lukman Mualim berharap, sebelum ada putusan inkrah dari sengketa milik tersebut tidak ada saling klaim. Sehingga, proses hukum bisa berjalan dengan lancar, adil dan jujur. “Kami juga punya bukti otentik yang sah,” tegasnya.

Seperti diketahui, Betty yang merupakan pejuang perang berupaya agar tanah seluas 29,19 hektare bisa kembali menjadi milik keluarga. Tanah bekas pabrik yodium itu juga digunakan oleh keluarganya menjadi benteng perjuangan mengusir penjajah.(cls