SIDOARJO TERKINI
Ekbis Headline Indeks

16 Ibu-ibu Kalidawir Lulus Pelatihan Batik, Lapindo Support Jadi Kampung Perajin Batik

Batik hasil karya ibu-ibu Desa Kalidawir, Kecamatan Candi setelah mengikuti pelatihan membatik di Jogjakarta
Batik hasil karya ibu-ibu Desa Kalidawir, Kecamatan Candi setelah mengikuti pelatihan membatik di Jogjakarta

(TANGGULANGINterkini)- Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin bukan hanya menjadi kampung gas. Namun, kedepan juga bisa menjadi kampung batik.

Hal ini setelah sebanyak 16 warga Desa Kalidawir lulus dalam pelatihan menjadi pengrajin batik alami di Balai Besar Pengrajin Batik Jogjakarta. Shofia salah satu peserta pelatihan menyatakan bersama ibu-ibu PKK lainnya. “Kami akan terus belajar dan mengkaryakan hasil dalam pelatihan atau menimbah ilmu membatik di Jogjakarta,” ujarnya disela-sela acara menerima bantuan alat perlengkapan membatik dari Lapindo Brantas Inc Kamis (14-4-2016).

Kades Kalidawir M Anas mengapresiasi karya-karya batik kaum ibu di berbagai desa dan kecamatan di Sidoarjo bisa sampai dikenal batik tulisnya di Indonesia. Dia berharap ibu-ibu PKK di desanya juga bisa mencontohnya atau dijadikan motivasi penyemangat. “Ilmu membatik sudah dipelajari, sekarang tinggal mengamalkan atau mewujudkan karya dari ilmu yang sudah diserap,” tandasnya.

Anas menambahkan, tekad kaum wanita di desanya itu sebagai langkah maju untuk mewujudkan karya yang nantinya bisa menghasilkan nilai yang positif dalam meningkatkan perekonomian. “Mesti saya dukunglah cita-cita kaum ibu Kalidawir dan menjaga keeksisannya supaya menjadi diantara salah satu kampung pengrajin batik, terwujud,” harapnya.

Sementara itu, Vice Presiden Public Relation Lapindo Brantas Inc, Hesti Armiwulan mengapresiasi dan mendukung keinginan warga Kalidawir menjadi kampung pengrajin batik tulis untuk kedepannya. Pihaknya selalu mendukung UKM di Sidoarjo dan usaha kelompok masyarakat di Sidoarjo, terutama di wilayah sekitar kerja operasional Lapindo Brantas Inc untuk maju.

Makanya ketika ada warga Kalidawir mengikuti pelatihan membatik di Jogjakarta, perusahaannya merasa terpanggil untuk membantu warga dalam peralatan untuk membatik, mulai dari canting, lilin, kompor dan lainnya.

“Dan itu sangat klop didukung dengan keinginan warga peserta pelatihan yang menginginkan desanya menjadi salah satu sentra pengrajin batik di Sidoarjo, seperti kampung batik lainnya di Sidoarjo yang sudah dikenal masyarakat Indonesia secara luas,” paparnya.

Hesti mengemukakan hasrat dan keinginan warga Kalidawir ini juga bisa ditularkan atau dicontoh warga desa lainnya. Mungkin warga Kedungbanten dan Banjarasri yang termasuk masuk wilayah kerja operasi perusahaannya di Kecamatan Tanggulangin.

“Tentunya kami juga akan mendukung jika warga Kedungbanteng dan Banjarasri menginginkan belajar dan ingin menjadi pengrajin batik. Lapindo juga siap membeli batik tulis karya warga. Syukur jika sampai diciptakan batik tulis berciri khas corak lumpur, pasti bagus itu,” saran Hesti.

Kepala Diskoperindag dan ESDM Fenny Apridawati menambahkan, ilmu yang didapat dari pelatihan, harus benar-benar diamalkan atau diwujudkan dalam menciptakan karya. “Jika karya sudah dihasilkan, pengrajin juga harus bangga dengan hasil karyanya dan bisa pakai busana sendiri sebagai tahap awal untuk promosi. Mencintai karya sendiri itu harus dipunyai oleh setiap pengrajin,” tuturnya.

Pihaknya, lanjut Fenny, juga akan terus mengawal dan memonitor warga yang sudah mengikuti pelatihan. Motivasi dan dorongan akan terus diberikan oleh dinas. Meski baru tahap awal atau baru mulai ingin membatik, jika didorong semangat yang tinggi, hal itu pasti bisa terwujud. “Apalagi sampai ada perusahaan (Lapindo red,) di desa yang juga mendukung, warga harus semangat dan gigih dalam mewujudkan dan menciptakan karyanya dalam membatik,” pungkasnya.(alf)