PPIP Temukan Indikasi Praktek Politik Uang Dan Ketidaknetralan Penyelenggara Pemilu Di Sidoarjo

April 11, 2019

Ketua Bawaslu Sidoarjo Haidar Munjid saat menerima tim pemantau dari PPIP

(SIDOARJOterkini) –  Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sidoarjo menerima perwakilan Pemantau Pemilu Independen PMII (PPIP) untuk melakukan audensi dan pelaporan atas temuan yang dilakukan di lapangan terkait Integritas penyelenggara pemilu yang ada di tingkat desa dan kecamatan serta adanya indikasi politik uang berupa bagi-bagi  uang dan sembako yang dikemas dalam acara konsolidasi jelang pelaksanaan pemilu.

“PPIP menyampaikan adanya indikasi politik uang yang dilakukan oleh beberapa Caleg dengan balutan acara konsolidasi, “ungkap Ketua Bawaslu Sidoarjo Haidar Munjid, Rabu (10/4/2019).

Disamping itu lanjut Haidar, adanya indikasi ketidaknetralan para penyelenggara pemilu ditingkat kecamatan dan desa.

“Para pemantau ini mendapati adanya beberapa anggota Panwascam maupun PPK yang mengadakan “pertemuan” dengan para Caleg, “tuturnya.

Tentu laporan yang disampaikan PPIP ini akan dijadikan masukan bagi Bawaslu untuk lebih tegas dalam mewujudkan Pemilu yang Jurdil dan berintegritas.

“Terkait temuan tersebut, kita minta kepada pemantau untuk melengkapi pelaporan dengan bukti otentik seperti foto dan rekaman video sebagai persyaratan formil dan material agar pelaporan tersebut bisa diproses, “tegas Haidar.

Sejauh ini pihak Bawaslu telah menerima sekitar 13 ribuan laporan yang berkaitan dengan pelanggaran administrasi serta  tiga laporan pelanggaran etik.

Sementara, Koordinator Pemantau Pemilu Independen PMII (PPIP) Sidoarjo, Haydar Wahyu mengatakan 350 anggota PPIP saatbini sudah mulai disebar diseluruh desa di kabupaten Sidoarjo untuk pelakukan pemantauan terkait pelanggaran dan kecurangan baik yang dilakukan oleh kontestan Pemilu dalam hal ini Caleg maupun para penyelanggara pemilu.

“Temuan yang kita dapatkan dilapangan kita sampaikan ke Bawaslu,”ujar Haydar Wahyu.

Ditambahkannya, masih ditemukannya para penyelenggara ditingkat kecamatan yang terlihat “kompak” dengan para Caleg mengindikasikan adanya ketidaknetralan dari para penyelenggara pemilu ini.

“Kita sering temukan para penyelenggara pemilu sedang ngopi bareng dan sampai ada yang berfoto ria sambil membawa gambar caleg, “ucapnya.

Untuk pelanggaran money politik pihaknya menemukan indikasi yang terjadi di wilayah Sukodono, candi,  Tanggulangin, adapun modusnya bermacam cara dari pembagian sembako, menukar fotocopy KTP dengan sejumlah uang dan lain sebagainya.

“Pelanggaran dan kecurangan dalam pemilu tersebut perlu penanganan tegas baik dari KPU maupun Bawaslu untuk menjadikan pemilu Jurdil dan berintegritas, “tandasnya. (cles)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *