Menyingkap Tabir Sejarah Ki Donorekso Mbah Buyut Dusun Bakalan Balongbendo

Januari 12, 2019

 

(SIDOARJOterkini) – Bakalan adalah nama salah satu dusun dari Desa Bakalan Wringinpitu yang terletak di wilayah barat Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Kecamatan Balongbendo. Di Dusun Bakalan ini terdapat sebuah makam keramat yang diyakini sebagai  tempat peristirahatan terakhir “Mbah Buyut Dusun Bakalan”.

Ada sebuah kisah sejarah dari sosok Mbah Buyut ini yang tidak diketahui oleh warga dusun Bakalan. Dari berbagai sumber dan terawangan ghaib yang dilakukan oleh seorang tokoh warga  akan sedikit menguak siapa sosok Mbah Buyut Dusun Bakalan ini.

Konon pada jaman dahulu sebelum kerajaan Majapahit berdiri ada seorang punggawa kerajaan dari Banyuwangi yang bernama Donorekso. Pria gagah berbudi luhur dan rendah hati yang saat itu menjabat sebagai Wedana (Jabatan di atas Camat) ini, seringkali berseberangan dengan aturan kerajaan.

Bahkan karena Donorekso yang tidak pernah sejalan dan dianggap pembangkang kerajaan, pernah dihukum dengan dipotong-potong tubuhnya menjadi beberapa bagian. Namun dengan kesaktian yang dimiliki, tubuh Donorekso yang terpotong-potong itupun menyatu kembali.

 

Merasa sudah tidak kuat lagi menahan tekanan yang dilakukan oleh kerajaan terhadap dirinya,  Donoreksopun melarikan diri menuju ke Kediri, Dia melakukan pengembaraan panjang sampai ke wilayah Ponorogo. Karena pihak kerajaan terus memburu dirinya, Donorekso sempat bersembunyi di daerah Ngebel (nama sebuah telaga di Ponorogo). Pengembaraannya pun berlanjut sampai ke sebuah daerah hutan belukar, dan di tempat inilah Dono Rekso membuka hutan dan hidup tenang  sampai ajal menjemputnya.

Disampaikan pula oleh salah satu tokoh warga yang enggan disebut namanya ini keberadaan makam Mbah Buyut yang terletak di pinggir sawah menandakan kesederhanaan dari seorang Ki Donorekso. Dalam terawangan ghaib yang dilakukannya Ki Donorekso merupakan sosok pria gagah tinggi besar yang mengenakan udeng (kain penutup kepala) namun berbudi luhur dengan mata yang selalu tertutup tapi tidak buta . Kemana – mana dia selalu membawa tongkat dan ditemani seekor macan berwarna hitam legam. Dalam Makam keramat tersebut terdapat sebuah kursi goyang dengan ukiran naga pada pegangannya, sebelah kiri terdapat payung dan seekor burung perkutut putih yang bertengger.

Ki Donorekso merupakan sosok yang tidak sombong, bijaksana. Kalau ada permasalahan yang tidak berkenan dihatinya lebih baik diam. Beliau suka sekali mengawali sesuatu  namun apabila ada yang tidak setuju ataupun menentang, dia akan diam dan menghindar.

Rupanya pribadi Ki Donorekso inilah yang akhirnya dipakai sebagai nama dusun ini. “Dusun Bakalan” yang berarti hanya mengawali apabila ada yang menentang akan diabaikan begitu saja. Percaya atau tidak pribadi KI Donorekso ini terbawa pada sifat warga Dusun Bakalan sampai Sekarang. “Isane Mung Mbakali Nanging Ora Iso Mungkasi” (Bisanya hanya mengawali tanpa bisa mengakhiri) . (cles)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *