Satgas Pangan Gerebek RPH Liar Tropodo Krian, Pemilik Terancam 1 Tahun Penjara

Desember 5, 2018

(SIDOARJOterkini) – Satgas pangan Polresta Sidoarjo bersama dengan Dinas peternakan Kabupaten Sidoarjo melakukan sidak operasi di pemotongan hewan ilegal milik H Je’i Desa Tropodo Krian pada Rabu malam (5/12/2015).

Kasatreskrim Polresta Sidoarjo Kompol Muhhammad Harris yang memimpin operasi ini mengatakan, Operasi yang dilakukan ini dalam rangka mengantisipasi kelangkaan daging sapi.

“Utamanya adalah penindakan atas pelanggaran yang dilakukan oleh RPH liar yang menyembelih ternak sapi betina produktif, “jelasnya.

Diungkapkan Harris, saat operasi didapatkan 4 ekor sapi betina produktif yang sudah dipotong dan ada 5 ekor sapi betina produktif yang belum sempat dipotong.

“Salah satunya adalah sapi betina produktif dalam kondisi bunting,”ucapnya.

Sejatinya, sapi betina produktif itu ada masanya. Dan setelah dilakukan pemeriksaan sapi betina yang ada di tempat ini berusia 2-3 tahun dan masih produktif.

“Atas pelanggaran ini pemilik akan dijerat dengan pasal 86 UU Peternakan dengan ancaman kurungan 1-3 tahun,”tegasnya.

Pihaknya akan melakukan pendalaman terkait hasil operasi malam ini. termasuk keberadaan RPH Ilegal yang sudah beroperasi mulai tahun 2015 ini.

“Kita akan koordinasikan dengan pihak Pemkab Sidoarjo untuk masalah RPH liar ini,”ucapnya.

Sementara Itu Kasi Kesehatan Masyarakat Veterania (Kesmavet) Dinas Peternakan  Sidoarjo Nuning Puji Astutik mengatakan, ada larangan penyembelihan ternak sapi betina produktif hal ini dikarenakan untuk menjaga populasi sapi yang semakin menurun.

“Harapan kita kedepannya bisa menjadi penyedia daging sapi, jadi tidak perlu lagi mendatangkan daging sapi dari luar kalau populasi ternak sapi ini terjaga, “tutur Nuning.

Timbulnya RPH liar dibeberapa tempat ini bermula dari pengetatan aturan terhadap ternak sapi yang masuk ke RPH. Sehingga membuat para jagal menyembelih sendiri ternak sapi di tempat mereka.

“Saat ini terdeteksi ada beberapa tempat yang dijadikan RPH liar, diantaranya 1 tempat di Balongbendo, 1 tempat di Taman dan di Krian ada 6 tempat, “paparnya.

Nuning menuturkan, keberadaan RPH liar ini sangat tidak layak. Hal ini dikarenakan ditempat ini tidak adanya pemeriksaan kesehatan ternak yang akan dipotong.

“Tentu sangat beresiko kalau ternak ini mengidap penyakit atau kuman yang berbahaya seperti Anthrax, “pungkasnya. (cles)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *