GERAKAN PEMILIH CERDAS, DEMOKRASI BERKUALITAS

Juni 6, 2018

Di tulis oleh :

NUR MUCHAMAD SHOLICHUDDIN, S.Ag. M.Pd

(Sekretaris DPD KNPI Kabupaten Sidoarjo)

Demokrasi  adalah  proses  dimana orang-orang  memilih  seseorang yang  kelak  akan  mereka salahkan”. Bertrand russel, Filsuf, ahli matematika dan  Peraih  Nobel sastra (1950) dari Inggris  1872-1970.

Pemilu yang demokratis  adalah pemilu  yang  dilakukan  secara berkala, dan diselenggarakan berdasarkan prinsip bebas, serta jujur dan adil (free and fair election).  Sifat demokratis pemilu diperlukan untuk menjaga bahwa pemilu sebagai suatu mekanisme demokrasi dapat mewujudkan tujuan yang hendak dicapai. Melalui pemilu, rakyat tidak hanya memilih orang yang akan menjadi wakilnya dalam penyelenggaraan negara, tetapi juga memilih program yang dikehendaki sebagai kebijakan  pada pemerintahan selanjutnya.

Tujuan pelaksanaan pemilu adalah terpilihnya wakil rakyat dan terselenggaranya pemerintahan yang benar-benar sesuai dengan pilihan rakyat. Pemilu yang tidak mampu mencapai tujuan itu hanya akan bersifat  formalitas  sebagai  pemberian legitimasi  bagi  pemegang  kekuasaan negara.  Pemilu demikian adalah pemilu yang kehilangan ruh demokrasinya.

Berkaca pada apa yang dikutip dari Bertrand Russel, ada pra syarat  dalam menggunakan hak demokrasi masyarakat  berpartisipasi dalam pemilihan, agar dikemudian hari tidak menyalahkan apa yang kita pilih pada pemilu .  Dalam pilkada,  masyarakat memiliki harapan akan muncul pemimpin daerah yang amanah dan berkualitas,  harapan akan meningkatnya kesejahteraan masyarakat,  meningkatnya daya saing daerah dan meningkatnya pelayanan umum yang cepat dan berpihak kepada masyarakat.

Memang  selalu ada Gap antara harapan masyarakat  dengan profil kandidat dan kemampuan mewujudkan gagasan dan ide sebuah program kampanye  untuk direalisasikan. Selalu ada keterbatasan, baik keterbatasan yang memang tak bisa dijangkau oleh para politisi karena berada diluar kontrolnya  maupun problem integritas  sang  politisi.

Pemilih yang Cerdas, istilah yang sering terdengar sebagai salah satu istilah untuk memastikan masyarakat sebagai pemilih agar tidak salah pilih dalam pemilu, dan akan menyalahkan kemudian hari karena tidak sesuai harapan atau ekspektasi masyarakat. Bagaimana mewujudkan pemilih yang cerdas, literasi seperti apa yang harus dilakukan, keterbatasan apa yang dihadapi dari istilah pemilih cerdas dan bagaimana jalan keluar dari itu semua ?

Menjadi pemilih cerdas adalah memilih dengan hati nurani dan akal sehat, bersikap objektif tanpa dipengaruhi suku, agama, kekerabatan bahkan faktor uang, memilih dengan melihat sisi moralitasnya apakah pernah tersandung kasus korupsi atau tidak, pernah selingkuh atau tidak, secara intelektual mumpuni atau tidak, intelektual penting karena bersangkutan pada penyerapan aspirasi rakyat, profesionalismenya dalam menyelesaikan permaslahan yang bersifat teknis dan pendidikannya, karena pendidikan yang membentuk karakter kepemimpinan secara bijak dan tepat sasaran. Hal ini sangat penting untuk dicermati sebagai bahan pertimbangan sebelum dipilih.

Pemilih cerdas harus bisa mendapatkan informasi  yang cukup dan relevan terkait  para kandidat yang berlaga dalam pemilu sebagai prasyaratnya. Meski saat ini sudah sangat berlimpah informasi, dampak teknologi informasi bahkan sudah over hingga sangat sulit dibedakan, mana informasi yang kredibel dengan yang hoaks atau palsu.

Masyarakat  memerlukan literasi media, baik media konvensional maupun media sosial sebagi sumber informasi yang diterima masyarakat. Diharapkan dengan literasi yang cukup,  masyarakat mempunyai kemampuan untuk mengolah informasi yang ada.

Mendorong masyarakat menjadi pemilih yang cerdas dan berdampak besar pada output demokrasi perlu dilembagakan, dalam bentuk gerakan masyarakat. Gerakan Masyarakat menjadi pemilih yang cerdas menjembatani kebutuhan bersama masyarakat untuk menjadi pemilih cerdas,dan menjadi jaringan pemilih cerdas  untuk memastikan output demokrasi berkualitas juga.

Bila itu sudah kita lakukan, tak perlu juga kita salahkan pilihan  masyarakat dan hasil pilihannya. Gerakan masyarakat pemilih cerdas bisa berlanjut  dengan upaya upaya demokratis sebagai kelompok kritis sebagai partisipasi politik pasca pemilu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *