Angka Perceraian Tinggi, Pengadilan Agama Sidoarjo Buka Layanan Sidang Keliling

April 12, 2018
(SIDOARJOterkini)-Sangat memprihatinkan, tingkat perceraian di Kabupaten Sidoarjo sangat tinggi sekali. Sebanyak 4000 kasus yang saat ini tengah ditangani oleh Pengadilan Agama (PA) Sidoarjo. Hal ini diungkapkan oleh Ketua PA Sidoarjo Mochammad Jauhari disaat menggelar sidang keliling PA dikecamatan Krian, Kamis (12/4/2018).
“Saat ini PA Sidoarjo menangani 5000 an kasus,  dan yang paling banyak adalah kasus perceraian jumlahnya mencapai 4000 an kasus”, ungkap M. Jauhari.
Diungkapkan Jauhari, masalah mental pasangan yang labil menjadi penyebab tertinggi perceraian yang kemudian disusul faktor ekonomi   dan pengaruh pihak ketiga. Banyaknya kasus perceraian itulah yang membuat PA kwalahan menanganinya bahkan para hakim yang menangani dituntut pulang sampai malam menyelesaikan proses sidang.
“Apalagi jumlah hakim yang menangani di PA Sidoarjo ini sangat terbatas,”ungkapnya.
Program Sidang Keliling yang dilakukan PA Sidoarjo diharapkan membantu mempercepat proses penanganan kasus perceraian, istilahnya menurut Jauhari jemput bola di kecamatan-kecamatan, selain kasus perceraian, Sidang Keliling juga menangani permasalahan sengketa harta waris, perubahan nama di akta nikah dan melayani sidang isbat (pengesahan) perkawinan bagi pasangan yang sudah nikah siri difasilitasi agar mengurus akta nikah.
“ Sidang keliling ini merupakan solusi dan terobosan yang dilakukan PA Sidoarjo, untuk menangani kasus dengan sistem jemput bola ke kecamatan-kecamatan,” papar Jauhari.
Sementara itu, Wabup Nur Ahmad Syaifuddin mengaku prihatin melihat tingginya kasus perceraian di wilayahnya. Pasangan muda  saat ini  banyak yang minim pengetahun tentang pra- nikah.
 “Padahal pemahaman masalah pra-nikah sangat penting bagi setiap calon pengantin,”ungkapnya.
Untuk itu, Nur Ahmad menyerukan kepada Balai Nikah yang ada di KUA (Kantor Urusan Agama) harus lebih serius dalam menyelenggarakan pendidikan pra-nikah. Agar pasangan memiliki wawasan yang cukup untuk menikah. Serta mengerti hak dan kewajiban sebagai suami istri.
“Dengan demikian apabila pasangan paham kaidah perkawinan, masalah yang menyebabkan perceraian akan terhindar,”tandasnya. (cles)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *