Sidak Beras Impor, Berikut Kritikan Anggota DPR RI

Februari 26, 2018
Ekbis Headline Indeks   289 views

BUDURAN – Anggota Komisi VI DPR Bambang Haryo Soekartono menilai impor beras yang dilakukan Pemerintah salah kapra. Hal ini karena beras impor dari negara Thailand tersebut kulitasnya tak lebih baik dari beras petani kita.

Tak hanya itu kedatangan beras impor ini juga bersamaan dengan panen raya di Papua, bahkan dari data panen raya padi di Papua mencapai 300 ribu ton.

“Dipapua sekarang panen raya padi, kok malah Pemerintah impor beras 40 ribu ton. Dan anehnya beras beras impor ini akan didistribusikan ke wilayah Indonesia Timur,” kata Bambang Haryo usai sidak beras impor yang dititipkan digudang milik Perum Bulog Divre Surabaya Utara di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Senin (26/2/2018).

Lebih jauh Politisi Partai Gerindra ini menjelaskan jika masuknya beras impor ini jangan sampai mengganggu iklim pertanian Indonesia. Apalagi, saat ini beras produksi nasional sudah berlebih dan suplai untuk masyarakat juga bisa dijaga.

“Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian harus bisa mengatur distribusi beras impor yang sudah masuk ke negara kita ini. Yang lebih penting dan ketakutan kita jika beras impor ini mengganggu iklim pertanian, bisa-bisa petani kita enggan bertani lagi,” jelasnya.

Bambang Haryo menambahkan jika setelah dilihat beras impor ini kualitasnya dibawah beras petani lokal. “Saya sudah lihat beras impor ini, berasnya mudah patah dan kualitasnya saya nilai dibawah beras petani kita (beras nasional red),” imbuhnya.

Dia berharap Kementan yang bertanggung jawab atas pemenuhan produksi beras dan Kemendag untuk menilai kecukupan dan harga beras tersebut bisa bekerja berirama. Jangan sampai ada suplai berlebihan akibat masuknya beras impor yang dilakukan oleh Bulog atas rekomendasi Kemendag, sebab jika terjadi over suplai, khawatir terjadi penurunan harga gabah yang drastis dipetani nasional kita.

“Pemerintah harus berhati-hati, karena saat ini harga beras dinegara kita masih normal dan produksinya melimpah, tapi ada beras impor. Takutnya membuat iklim pertanian tidak kondusif. Ujung-ujungnya menyulitkan dan petani yang dirugikan,” ungkapnya.

Politisi Partai pimpinan Prabowo Subianto ini menegaskan jika saat ini pantauan harga beras premium di Papua Rp. 11.000 perkilo, tetapi harga beras di Surabaya Rp. 12.500 perkilo.

“Kan ya aneh beras dipapua harganya dibawah kota Surabaya. Kan seharusnya dipapua lebih tinggi harganya dari Surabaya. Kok malah beras impor ini malah akan dikirim ke Indonesia wilayah Indonesia Timur, ada apa dengan Pemerintah, pasti ini ada permainan. Disini Bulog tidak salah karena bulog hanya menjalankan perintah,” pungkasnya. (alf)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *