Prihatin Nasib Warga NU, Kiai Jatim Desak Cak Imin Maju Cawapres

Februari 10, 2018

SIDOARJO – Puluhan kiai muda dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) prihatin dengan nasib warganya yang puluhan tahun selalu dipinggirkan dalam pembangunan. Banyaknya program pemerintah yang ditujukan untuk menghapus kemiskinan malah tidak tepat sasaran.

“Karena nyatanya warga NU sampai hari ini masih tidak meningkat kesejahteraannya. Yang paling menderita saat ini ya orang NU,” kata koordinator Forum Nahdliyin Bersatu wilayah Jawa Timur, KH Abdus Salam Sokhib saat mendeklarasikan Muhaomin Idkandar sebagai Cawapres di Pondok Pesantren Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Sabtu (10/2/2018).

Karena itu, para kiai dan aktivis NU dari berbagai daerah di Jatim berkumpul meminta Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar maju jadi cawapres 2019 sebagai jawaban atas keprihatinan mereka selama ini.

“Melalui forum ini, kami dari keluarga pesantren dan aktivis muda NU se Jatim meminta kesediaan Cak Imin untuk tidak lagi ragu, malu dan setengah hati dalam menerima dukungan warga NU di seluruh Indonesia yang menginginkannya maju dalam Pilpres mendatang baik sebagai Calon Wakil Presiden,” kata Gus Salam, sapaan akrab Abdus Salam.

Ia mengatakan, warga NU sangat mendorong cak Imin untuk maju dalam Pilpres mendatang bukan sekadar untuk menunjukkan kekuatan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.

“Lebih dari itu, ada kepentingan yang lebih urgen mengapa kita perlu mendukung cak Imin menjadi Wapres periode mendatang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pihaknya merasa prihatin dengan kondisi warga NU yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Padahal, nahdliyin (warga NU) hampir separuh dari jumlah penduduk Indonesia yakni sekitar 49 persen.

“Artinya, separuh dari penduduk Indonesia masih berada dibawah kemiskinan,” tegas Gus Salam.

Lebih jauh, Gus Salam menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingkat kesejahteraan warga NU masih sangat rendah. Salah satunya kebijakan pemerintah yang masih melakukan impor beras yang terancam membanjiri pasar.

“Dengan kebijakan pemerintah mengimpor beras, jelas mengancam keberadaan beras lokal di pasar. Padahal, banyak warga NU yang berprofesi petani untuk menyambung hidup di negeri ini,” katanya.

Di sisi lain, harga kebutuhan yang semakin naik membuat warga NU semakin kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Warga NU juga banyak yang bekerja sebagai buruh, dalam situasi hampir semua kebutuhan pokok baik sementara gaji huruh ditekan sedemikian rupa jelas membuat warga NU berada dalam situasi sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tukas Gus Salam.

Belum lagi, masih kata Gus Salam, harus menghadapi kenyataan pahit ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan dilarangnya cantrang tanpa adanya kepastian penggantian alat tangkap ikan.

“Kami menangkap kesan, tidak ada perhatian yang serius dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga NU yang nelayan buktinya belum ada stimulasi lain yang bisa menggerakkan ekonomi mereka. Karena banyak warga NU yang profesinya juga sebagai nelayan selama bertahun-tahun,” lanjutnya.

Tak hanya sampai disitu, Gus Salam juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah terhadap persoalan klasik di dunia pesantren. Ia menilai, sejauh ini pemerintah belum menunjukan keseriusannya memperhatikan pendidikan pesantren.

“Sampai saat ini, para Guru atau Ustad di pesantren tidak mendapatkan perhatian memadai dari pemerintah terutama peningkatan SDM maupun fasilitas. Banyak pesantren dan madrasah yang didirikan warga NU selama ini dikelola dan dikembangkan secara swadaya dan terbatas baik dalam pembangunan sarana maupun SDM,” urainya.

Oleh karena itu, ia menegaskan akan bergerak bersama para anggota FNB untuk memastikan kesediaan Cak Imin sebagai tokoh NU yang mendapatkan mandat dukungan dari para masyayikh dan para ulama khos untuk maju sebagai Cawapres pada Pilpres yang akan datang.

“Kami ingin memastikan kesediaan Cak Imin untuk menerima mandat dukungan yang isinya adalah memperjuangkan dan menjamin agar warga NU bisa bangkit secara ekonomi sehingga bisa lebih sejahtera dan lebih tinggi lagi martabatnya, dan secara umum bisa juga membangkitkan ekonomi umat,” tutup Gus Salam. (alf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *