Jelang Peringatan HUT Kemerdekaan, Pengerajin Baju Adat Kebanjiran Order

Agustus 7, 2017

WONOAYU – Menjelang perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus mendatang, menjadi berkah tersendiri bagi pengerajin baju adat di Kabupaten Sidoarjo, Siti Ulfah misalanya. Ia kebanjiran order hingga lima kali lipat dibanding hari-hari biasa.

Pengerajin baju adat asal Dusun Ngengor RT 01 RW 03, Desa Becirongengor, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo ini kebanjiran order hingga 5 kali lipat dibanding bulan-bulan biasanya. “Perbulan biasanya ada pesanan sampai 5 hingga 10 kodi. Tapi sekarang alhamdulillah ada pesanan 50 kodi, ucap ibu satu anak ini, Senin (07/08/2017).

Per lima kodinya, perempuan berusia 47 ini mampu menyelesaikan dalam kurung waktu 3 sampai 4 hari dibulan-bulan biasanya. Namun, saat ini per lima kodinya, ia mampu menyelesaikan dalam waktu 2 hari. “Kalau hari-hari biasa, 5 kodi selesai dalam waktu 3 hari,” kata Ulfah.

Dibalik kesuksesannya ini, tentu ada seorang pekerja, yakni dari kalangan tetangga sendiri. Sedikitnya ada sekitar 10 tetangga yang bekerja di kerajianan baju adat dari sabang sampai merauke tersebut. “Ada yang dibawa pulang dan juga ada yang dikerjakan disini. Biasanya bekerja dimulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 15.00 WIB,” terangnya.

Untuk harga baju adat tersebut, bermacam-macam. Kalau baju adat untuk anak kecil, dipatok seharga Rp 200 ribu per pasang, laki-laki dan perempuan juga lengkap dengan aksesoris-aksesorisnya. Sedangkan baju adat untuk orang dewasa, dipatok dengan harga 300 sampai 350 ribu. “Saat ini banyak yang memesan baju adat Dayak, Gorontalo, Papua dan Bali,” ujarnya.

Niat Siti Ulfah dan Didik (50) suaminya untuk membuat usaha baju adat muncul ketika saat itu dia bekerja di pabrik kawasan Sidoarjo. Karena waktu belum banyak yang membuat baju adat, ia memberanikan diri untuk merintis usaha tersebut.

“Saat itu memang tidak banyak orang yang membuat baju adat. Nah, dari situ saya mencoba membuatnya. Bersama suami, kami mencoba menjualnya dibeberapa pasar di Surabaya, seperti Pasar Turi, Pusat Grosir Surabaya bahkan sampai Yogyakarta,” ungkapnya.

Baju adat karya Siti Ulfa ini sendiri sudah banyak peminatnya dari luar jawa seperti, Yogyakarta, Flores, Solo dan pulau diluar jawa lainnya. Bahkan, sampai luar negeri mulai dari Malaysia dan Singapura. Sedangkan untuk melayani pesanan ke luar negeri, dirinya tidak bisa langsung memenuhi pesanannya secara langsung ke pembeli, tapi melalui distributor yang ada di Yogyakarta.(alf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *