Kasubbag Humas Polresta Sidoarjo Lestarikan Budaya Dengan Mendirikan Sanggar Reog “Singo Menggolo”


(SIDOARJOterkini) – Kesibukan AKP Samsul Hadi bisa dikatakan padat. Karena, selain menjabat sebagai Kasubbag Humas di Mapolresta Sidoarjo, ia juga hobi mamainkan tari reog. Bahkan, dirinya mempunyai sanggar tari reog “Singo Menggolo” dan group campur sari di kawasan Perum Kahuripan Nirwana Village Blok CB 9 No 15, Sidoarjo. Meski demikian, sama sekali tidak mengganggu aktifitas pengabdiannya sebagai pelayan masyarakat.

Bagi seorang kelahiran Ponorogo yang menjadi polisi sejak tahun 1986 ini, tari reog merupakan warisan budaya tradisional yang perlu di lestarikan keberadaannya. Agar tidak punah di era yang penuh dengan adanya gadget seperti saat ini. “Tari reog merupakan warisan leluhur kita yang adi luhung. Maka, kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang melestarikan budaya ini,” ucapnya, Selasa (11/04/2017).

Dalam diri seorang berkumis tebal ini, tari reog sudah tertanam sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Tak ayal ia sangat mahir dalam memainkan tarian asal Kabupaten Ponorogo itu, serta mahir dalam memainkan alat-alat musik reog, khususnya gendang. “Pertama kali main reog kelas 4 SD. Saat itu sebagai jatilan atau menari dengan menunggangi kuda,” ucapnya.

Kesuksesan dalam melestarikan budaya itu, terbukti saat ia mempunyai sanggar tari reog sendiri di kawasan KNV Sidoarjo, bernama “Singo Menggolo” yang diikuti oleh puluhan anggota mulai usia 10 tahun hingga usia lanjut. “Ada sekitar 50 peserta di sanggar. Ada yang dari Surabaya, Pasuruan dan Sidoarjo. Tapi kebanyakan dari Sidoarjo sendiri,” tuturnya.

Sanggar Singo Menggolo sendiri berdiri sejak tahun 2010. Saat itu, ia menjabat sebagai Kapolsek Tanggulangin. Sebelum ia mendirikan sanggar “Singo Menggolo”, ia sempat mengajak beberapa anggota polisi untuk melestarikan seni tradisional campur sari dengan nama Menggolo Budhoyo, yang bertempat di kawasan kahuripan ditahun 2011, ketika ia menjabat sebagai Wakapolsek Buduran.

Tidak sampai disitu, selain sukses dalam melestarikan budaya tari reog asli Ponorogo dan grop Campur Sari Menggolo Budhoyo, ia juga eksis di sebuah organisasi pencak silat yaitu Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang juga merupakan budaya asli Indonesia. Bahkan saat ini ia menjabat sebagai ketua 3 cabang Sidoarjo di organisasi yang berdiri sejak tahun 1922 tersebut.

“Mulai ikut organisasi pencak silat itu waktu saya usia 16 tahun, sejak sekolah di Sekolah Guru Olahraga (SGO) Negeri Madiun. Sampai saat ini saya masih aktif melatih, bahkan ada 22 siswa rata-rata usia lanjut atau private yang saya latih di satu tempat dengan sanggar Singo Menggolo. Saya juga bangga karena dipercaya sebagai ketua panitia pengesahan warga baru sebanyak 5 kali berturut-turut,” pungkasnya.(alf)