GP Anshor Sidoarjo Sayangkan Cuitan Mahfudz MD di Twiter.

Maret 8, 2017


(SIDOARJOterkini)- Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sidoarjo menyanyangkan pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, yang menyebut PC GP Ansor Kab Sidoarjo yang tidak menginginkan Khalid Basalamah memberikan ceramah di Masjid Shalahuddin di perumahan Puri Surya Jaya Gedangan.

Insiden tidak bolehnya Khalid Basalamah berceramah dan boleh diganti dengan ustadz lainnya itu menjadi viral dan ramai dalam pembicaraan di media sosial. Yang menjadi perhatian adalah cuitan tokoh Prof Mahfud MD. Dalam cuitan di twitter akun @mohmahfudmd juga banyak mengunggah soal insiden itu dan mendapat tanggapan dari berbagai lapisan masyarakat maupun kelompok.

Cuitan @mohmahfudmd itu mendapat tanggapan serius dari Ketua PC GP Ansor Kab. Sidoarjo H. Riza Ali Faizin, dia menyayangkan pernyataan mantan Ketua MK tersebut. Dalam tanggapan yang dikirim ke WA wartawan sidoarjoterkini.com, Riza mengecam dan menyayangkan cuitan Mahfud MD yang menyayangkan sikap GP Ansor dan Banser Sidoarjo saat Menolak Da’i Penceramah Khalid Basalamah di Masjid Salahuddin Perumahan Puri Surya Jaya Gedangan itu.

Pernyataan Mahfud MD melalui Twitter pribadinya tersebut dijadikan rujukan beberapa media massa online yang selama ini mendiskreditkan Ansor serta menyudutkan mereka bahwa mereka telah berlaku anarkhi dan tidak manusia kepada sesama muslim.

“Saya sangat menyanyangkan pernyataan Pak Mahfud itu. Sebelum mengetahui duduk dan fakta di lapangan,” katanya, Selasa (7/3/2017).

Riza menambahkan, mungkin Mahfud MD hanya mendengar atau membaca beberapa media online yang memberitakan kalau Ansor Sidoarjo telah melakukan pembubaran. Padahal secara jelas Kapolresta Sidoarjo Kombespol Muh Anwar Nasir menyatakan tidak terjadi pembubaran (Senin 6 Maret 2017 red,).

“Kami tegaskan saat itu tidak ada pembubaran. Hanya kami keberatan kalau Khalid Basalamah berceramah. Setelah diganti ustadz lainnya, pengajian berjalan terus, lancar dan sampai selesei,” tegasnya.

Seharusnya, lanjut Riza, sebagai Intelektual, guru bangsa bahkan tokoh Nahdlatul Ulama Mahfud MD sebelum berkomentar melakukan tabayyun dan memastikan terlebih dahulu kejadian yang sebenarnya.

Tentu budaya tabayyun, menyaring dan memastikan terlebih dahulu kebenaran serta validitas kabar baik di media online, situs media massa sebelum menanggapi atau menyebarkannya sangat perlu untuk diterapkan.

“Bagi kami inilah gaya mereka dalam berdakwah, menyebarkan berita bohong, menceritakan kejadian yang tidak sebenarnya, mendramatisir untuk mengambil simpati yang menjadi dasar kenapa kita harus menolak dan mewaspadai karena hal ini akan mengganggu kondusivitas serta mengancam kerukunan umat beragama,” jelasnya.

Riza berharap polisi bertindak tegas kepada siapa saja yang menyebarkan berita bohong, penebar kebencian dan hoax. “Bayangkan selevel Pak Mahfud MD saja menjadi korban hoax, apalagi mahasiswa dan kita masyarakat umum,” cetusnya

Ke depan semoga masyarakat terutama para tokoh yang menjadi rujukan publik lebih berhati-hati dalam berkomentar terutama di media sosial karena ada kemungkinan pernyataan tersebut dapat dijadikan alat untuk mendiskriditkan kelompok lain dan lebih parahnya kalau dijadikan alat untuk mengadu domba serta memecah persatuan.

“Mudah-mudahan berita bohong dan tidak benar, tidak dijadikan bahan untuk memojokkan Ansor,” pungkasnya. (mhm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *