Hadiri Pra Tanwir Muhammadiyah, Din Syamsuddin Sebut Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Masih Jauh Dari Harapan

Februari 19, 2017

(SIDOARJOterkini)- Rasa  Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, yang menjadi salah satu cita-cita pendiri Bangsa ini masih sangat jauh di republik ini. Harapan menjadi “Raja” di negeri sendiri, Rakyat Indonesia justru merasa terpuruk dan tertekan di negerinya sendiri.

Begitulah yang disampaikan oleh Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Din Syamsuddin, dalam acara Seminar Pra Tanwir Muhammadiyah 2017 dengan tema “Kedaulatan dan Keadilan Sosial untuk Indonesia Berkemajuan” di Aula KH Ahmad Dahlan Kampus I Gedung lantai 7 Umsida Sidoarjo, Sabtu (18/2/2017).

Menurut Din, masih terjadi kesenjangan yang jauh antara warga indonesia dengan warga asing. “Hal ini kita rasakan dan alami, dan orang lain juga harus mengakui karena berbagai indikator juga mendukung masalah ini,” tuturnya.

Beberapa indikator kesenjangan itu, diantaranya dalam bidang ekonomi. Kesenjangan yang dikemukakan oleh Din adalah data salah satunya tentang kepemilikan aset nasional. Bukan karena hasil pembelian, bahkan penguasaan itu kebanyakan karena pemberian negara. “Masa 1 persen rakyat Indonesia menguasai 48 persen aset nasional,” papar Din.

Tentang penguasaan aset nasional, lanjut Din, sudah menjadi rahasia umum bahwa diantara 1 persen itu mayoritas mutlak bukanlah warga negara Indonesia. “Belum lagi soal penguasaan lahan, yang mana 178 juta lahan di kuasai Aseng Asing, 148 juta lahan berada di daratan,” jelasnya.

Din mengaku akan mengusulkan pada pengurus PP Muhammadiyah untuk membahas problem bangsa ini pada agenda Tanwir Muhammadiyah yang akan di selenggarakan di Ambon pekan depan. “Jadi, keterpurukan ini sudah sangat jelas, realitas terbalik ini yang kemudian menjadikan tidak tegaknya Kedaulatan dan Keadilan sosial sehingga Indonesia Berkemajuan tidak bisa terwujud, dasar itulah menjadi alasan kenapa Muhammadiyah terus menyuarakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar karena Muhammadiyah tidak bertujuan mencari populisme keagamaan melainkan Praksisme Keagamaan,” pungkasnya. (mhm)

Dikirim da

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *