Ribuan Botol Miras Dan Hasil Penindakan Lainnya, Dimusnahkan Kanwil DJBC Jatim I

Desember 29, 2016

img-20161229-wa0005
(SEDATIterkini) – Kantor Wilayah Direktorat Jendral Bea dan Cukai (DJBC) Jatim I, memusnahkan hasil penindakan di bidang Kepabeanan, NPP dan Cukai periode tahun 2016, Kamis (29/12/2016).

Diantara barang ilegal yang dimusnahkan berupa sebanyak 13.920 botol miras berbagai merk, sex toys, rokok ilegal, makanan hewan, obat-obatan, bijih plastik, tekstil, besi, MMEA dan lainnya.

Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I, Decy Arifinsjah mengatakan, dibidang kepabeanan, penegahan di bidang impor terdapat 1091 kali dengan potensi kerugian negara sebesar Rp 88 miliar lebih dari total nilai barang sebesar Rp 416,3 miliar lebih.

Sedangkan dibidang ekspor, penegahan dilakukan atas beberapa komoditi total 72 kali, sehingga berpotensi kerugian negara sebesar Rp 5 miliar lebih dari total nilai barang sebesar Rp 17 miliar lebih.

“Dibidang ekspor, penegahan komditi yang menonjol yakni Kayu, Minerba, Cooper scrap, Zinc, CPO, Stainless steel, Rotan dan barang lainnya,” terangnya.

Untuk penindakan dibidang Narkotika, Psikotropika dan Prekursor, penindakan dilakukan sebanyak 16 kali dengan rincian barang berupa 9490 gram metamphetamine, 30 butir oxazepam dan 20.000 butir pil happy five.

Sementara penindakan dibidang cukai, terdapat 150 kali penegahan, meliputi Hasil Tembakau, Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan pita cukai yang tidak sesuai dengan ketentuan. Sehingga potensi kerugian negara sebesar Rp 31 miliar lebih.

“Total keseluruhan, potensi kerugian negara di tahun 2016 meliputi kepabeanan, NPP dan cukai mencapai sebesar Rp 125.300.936.785,” katanya.

Decy menambahkan, penindakan kepabeanan selama setahun ini mengalami peningkatan. Ditahun 2015 bidang kepabeanan terdapat 885 kasus, ditahun 2016 terdapat 1163 kasus atau naik 31,4 persen.

Dibidang NPP pada tahun 2015 ada 11 kasus, sedangkan tahun 2016 ada 16 kasus. Sementara dibidang cukai naik hingga 32 persen dari 108 kasus di tahun 2015, sekarang menjadi 150 kasus. “Rata-rata mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya,” pungkasnya.(alf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *