Tuntutan tak Dipenuhi, Warga Rusak Fasilitas Stasiun OSF Pertagas

image

Warga Desa Permisan, Kecamatan Jabon saat mendemo stasiun distribusi gas Pertagas.

(JABONterkini)- Warga Desa Permisan, Kecamatan Jabon demo di Stasiun OSF Pertamina Gas (Pertagas). Mereka menuntut kompensasi atas pembangunan pipa l stasiun penyuplai gas tersebut.

Mereka menilai selama ini stasiun gas milik Pertamina itu tidak memberi manfaat bagi warga sekitar. “Kami kesini menagih janji atas kompensasi dan perundingan jangan diulur-ulur lagi,” ujar koordinator aksi Ali Mursyid.

Mursyid menjelaskan, selama 23 tahun keberadan stasiun gas Pertagas di desa mereka tidak membawa manfaat apapun. Dan, aksi kali ini merupakan puncak kekecewaan warga.

Keberadaan stasiun distribusi gas Pertagas membuat desa itu panas. Sedangkan dari segi sosial, warga setempat juga tidak sejahtera. Padahal, di daerah itu ada perusahaan milik negara.

Demo penutupan akses ke lokasi stasiun OSF Pertagas sebenarnya sudah berlangsung dua hari. Warga kemudian marah karena tidak ditanggapi oleh pihak Pertagas.

Bahkan, warga yang sudah marah Rabu (15/4/2015) merusak beberapa fasilitas di pintu masuk stasiun, diantaranya pagar dan pintu. Bukan hanya itu, mereka juga memblokade pintu masuk ke stasiun OSF dengan pipa melintang.

Kapolres Sidoarjo AKBP Anggoro Sukartono memperingatkan agar warga tidak bertindak anarkis. ”
“Kalau sampai ada yang bertindak anarkis, akan saya tangkap,” jelasnya.

Aksi anarkis yang terjadi semalam menjadi peringatan bagi warga. Hal tersebut jangan sampai diulangi lagi.

Untuk mengamankan aksi warga,
Polisi mengerahkan 1 SSK Brimob Polda dan personel Polres Sidoarjo. Ratusan polisi berjaga setelah insiden pengerusakan di area Stasiun OSF.

Diantara tuntutan warga, ada poin-poin yang sudah disetujui bersama. Seperti sumbangan sembako yang bisa diambil setiap 3 bulan sekali dalam setahun. Namun, dari Pertagas  menilai banyak tuntutan warga yang tidak masuk akal.

Corporate Secretary anak perusahaan Pertamina, Adiatma Sardjito, mengatakan setelah mendengar sebagai tuntutan warga ternyata banyak yang tidak masuk akal.

Seperti, Pertagas harus memberi sembako selama proyek penanaman pipa. Padahal, sebenarnya hanya ada 7 warga yang rumah atau lahannya yang terdampak pemasangan pipa dan sudah ajak bicara.

Adiatma menegaskan, pada lrinsipnya pihaknya siap memberi kompensasi bagi warga yang terdampak langsung. “Ada aturan yang mewajibkan kami untuk mengganti segala kerugian warga berdampak,” ujarnya.

Sayangnya, tuntutan ini kemudian melebar ke seluruh warga. Pihaknya diminta agar membayar kompensasi kepada warga yang tidak berdampak. Setelah diakumulasi nilainya ratusan juta rupiah.

Adiatma juga membantah keberadaan Pertamina Gas tidak memberikan manfaat langsung kepada warga sekitar.

Dia mencontohkan, pihaknya  ingin membangun bersama warga. Yakni, ada lahan 10 hektar yang dimanfaatkan warga untuk tambak.”Saat ini memang belum maksimal,” aku Adiatma.

Saat ini Pertagas sedang membangun jaringan pipa gas dari Kangean Sumenep. Jaringan yang melewati laut itu itu kemudian akan disalurkan ke konsumen melalui Stasiun OSF Pertagas di Desa Permisan. (st-12)