Budidaya Lele Berkembang Berkat Bantuan PUMP

image

Kepala DKP HM Sholeh dan Sekretaris DKP Bachruni Aryawan saat panen raya lele di Desa Sebani, Kecamatan Tarik

(SIDOARJOterkini)- Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sidoarjo HM.Sholeh mengatakan jika berdasarkan laporan, tahun 2014 dari Kecamatan Tarik bisa menghasilkan sekitar 34 ribu ton ikan lele. Budidaya lele itu diantaranya berkembang setelah ada Program Usaha Mandiri Pedesaan (PUMP) Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Sholeh bersyukur karena bantuan PUMP itu berkembang. Bukan hanya itu, juga memberi motivasi warga untuk budidaya ikan lele sendiri.

Ditambahkan oleh Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Bachruni Aryawan, bantuan PUMP tiap tahun disalurkan ke kelompok budidaya ikan. Bukan hanya di Kecamatan Tarik saja, tapi wilayah lain. Rata-rata kelompok yang menerima PUMP berkembang,” ucapnya.

Khusus di Desa Sebani, Kecamatan Tarik bisa dikatakan sebagai sentra ikan lele. Pasalnya, selain banyak warga yang budidaya lele, juga banyak makanan olahan berbahan baku ikan air tawar tersebut.

Budidaya ikan lele di Desa Sebani bermula adanya bantuan PUMP tahun 2011 silam. Kelompok budidaya ikan Mina Tani Sebani, Kecamatan Tarik ndapat bantuan Rp 65 juta. “Kemudian kelompok tani yang beranggotakan 12 orang membuat kolam dari terpal,” ujar Ketua Mina Tani yang juga Kepala Desa Sebani Adi Mursito, saat panen raya lele.

Dari modal itu, budidaya lele yang dikelola kelompok berkembang dan menghasilkan. Akhirnya, anggota kelompok Mina Tani membuat kolam sendiri disamping ikut mengelola kolam kelompok.

Lalu berapa penghasilan sekali panen?. Untuk 20 kolam yang perkolamnya berukuran 2×4 m2 bisa mendapat keuntungan bersih antara Rp 6 sampai 7 juta. Dengan asumsi tiap kolam diisi 1000 ekor.

Budidaya ikan lele, satu tahun bisa panen sampai 4 kali. Setiap hasil panen keuntungannya dibagi rata untuk anggota kelompok, termasuk pemilik lahan.

Lain halnya dengan anggota kelompok Mina Tani yang mempunyai kolam sendiri. Salah satunya, Suparto yang kini omzetnya sudah diatas Rp 400 juta.

Suparto mengaku awalnya belajar budidaya ikan di lahan yang dikelola kelompoknya. Kemudian dia pinjam modal Rp 8 juta untuk budidaya lele.

Ternyata usaha yang digelutinya membuahkan hasil. Belum sampai lima tahun dia sudah mempunyai sebanyak 12 kolam ukuran 4,5×8 m2. Tiap kolam diisi sampai 10 ribu ekor. Sekali panen, bapak dua anak ini bisa meraup keuntungan antara Rp 16 sampai 20 juta.

Dari budidaya lele ini dia bisa membangun rumah, dan membuat kolam dari beton yang menelan biaya ratusan juta. “Budidaya lele itu gampang-gampang susah yang penting telaten,” ujar Suparto.

Camat Tarik, Aan Alifauzansyah mengatakan jika kini di Desa Sebani sudah banyak warga yang budidaya lele. Oleh karena itu kemudian berkembang home industri makanan olahan berbahan ikan lele. “Seperti bakso lele, nuget dan lainnya. Bahkan, untuk lele sudah dieksport,” jelasnya.

Banyaknya, warga yang budidaya lele, pihaknya merintis panen raya yang dikemas dengan kegiatan bazar dan pameran produk home industri. Bukan hanya itu, dalam acara perdana panen raya lele itu juga digelar senam Goyang Lele.

Untuk senam Goyang Lele, lanjut Aan, merupakan hasil kreasi warganya yang nantinya bisa dijadikan ikon Tarik. “Kalau goyangnya ya mirip lele, meliuk-liuk.Semoga bisa terkenal,” harap pria yang baru menjabat Camat Tarik dua tahun itu. (st-12)