Dirawat Sebulan di RSUD Sidoarjo, Bayi Raja Akhirnya Buta

Maret 5, 2015

image
Bayi Raja digendong ibunya usai hearing dengan Komisi D DPRD Sidoarjo.

(SIDOARJOterkini)- Aryawan menceritakan kronologis anaknya hingga mengalami kebutaan. Awalnya, 19 September 2014 istrinya yang sedang hamil 28 minggu masuk IGD RSUD Sidoarjo karena tensi darahnya naik. Tanggal 25 September, dilakukan persalinan dengan operasi Caesar.

Bayi yang kemudian diberinama Raja Bartolomeus Esa Putra itu lahir dengan berat 1,4 kilogram. Karena prematur, Raja dirawat di ruang PICU menggunakan incubator serta diberi terapi oxygen.

Raja dirawat di ruang PICU sekitar sebulan dan baru diperbolehkan pulang tanggal 23 Oktober 2014. “Sebelum dibawa pulang saya bertanya ke dokternya, karena badan dan mata anak saya masih berwarna kekuningan,” tutur Aryawan.

Namun, kala itu dijawab oleh dokternya tidak apa-apa. Yang penting diberi ASI dan sering-sering dijemur kalau pagi.

Demikian pula ketika kontrol ke Poli Tumbuh Kembang Anak RSUD Sidoarjo,  27 Oktober. Kondisi badan Raja memang sudah tidak kuning, hanya matanya yang masih berwarna kuning. “Dokternya menjawab kalau anak dengan berat badan tidak normal memang seperti itu, nanti akan hilang dengan sendirinya,” jelas Aryawan menirukan apa yang dikatakan dokter anaknya.

Aryawan dan istrinya menganggap anaknya normal saja setelah mendapat penjelasan dokter. Namun, alangkah terkejutnya saat mereka berada pulang kampung di Jepara, Jawa Tengah, bulan Desember 2014, ternyata Raja mengalami kebutaan.

Hal itu diketahui saat memeriksakan Raja ke dokter anak yang kemudian diberi rujukab dokter mata di Jepara. Dokter mata tersebut mengatakan jika kondisi Raja memang buta.

Aryawan masih tidak percaya, dan memeriksakan anaknya ke dokter spesialis mata di Semarang. Pun, demikian jawaban yang diterima juga sama. Bahkan dijelaskan oleh dokternya jika Raja mengalami kebutaan permanen. “Saya dan istri sangat syok,” ujar Aryawan.

Tentu saja Aryawan sangat kecewa terhadap dokter RSUD Sidoarjo yang merawat anaknya. Karena selama dirawat tidak melakukan pemantauan secara cermat, apalagi memberikan rujukan ke dokter mata.

Karena tidak terima atas perlakuan itu, Aryawan kembali ke RSUD Sidoarjo. Bahkan, sempat memeriksakan anaknya ke dokter mata di rumah sakit itu, oleh dokternya dikatakan jika salah satu mata anaknya ada tumor dan satunya retinanya putus.

Aryawan juga mensomasi pihak RSUD Sidoarjo atas dugaan malapraktek tersebut. Akhirnya ada mediasi yang intinya pihak rumah sakit akan bertanggungjawab.

Sayangnya, tidak ada iktikad baik dari rumah sakit untuk menyelesaikan masalah ini. Akhirnya Aryawan bersama penasehat hukumnya Sunarno Edi Wibowo dan partner mengadu ke Komisi D DPRD Sidoarjo. “Masih terbuka penyelesaian secara kekeluargaan. Namun, jika tidak ada itikad baik dari pihak rumah sakit, maka akan kami tempuh jalur hukum,” ujar Sunarno Edi Wibowo.

Pihaknya masih menunggu itikad baik dari RSUD Sidoarjo yang katanya akan bertanggung jawab seperti apa. “Kalau anak saya sudah buta apa bisa dipulihkan,” ujar Aryawan yang tercatat sebagai guru di SDN Lemahputro, Sidoarjo tersebut. (st-12)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *