Puspa Agro Tingkatkan Layanan Untuk Petani, Peternak dan Nelayan

Februari 26, 2015
Ekbis Headline Indeks   14 views
image

Komoditi yang dipasarkan Puspa Agro kini sudah masuk ke pasar modern

(SIDOARJOterkini)- Puspa Agro terus meningkatkan program layanan kepada para petani peternak dan nelayan sebagai pemilik produk. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, peternak dan nelayan di Jawa Timur.

Kini pusat agrobis terbesar di Jawa Timur itu memaksimalkan divisi trading house Puspa Agro. “Ini sebagai program utama untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi para petani nelayan dan peternak,” ujar Direktur Puspa Agro Abdullah Muchibuddin.

Divisi trading house didirikan tahun 2014 lalu, namub sudah mampu mengembangkan nilai serapan 8 komoditas hasil pertanian peternakan dan perikanan. Bahkan kini sudah bisa  bertansaksi sebesar Rp 17 miliar lebih.

Muchibuddin menjelaskan, pihaknya Januari 2014 menggandeng pihak ketiga. Yakni, Puspa Agro memperoleh lisensi khusus untuk menyalurkan produk pertanian Jawa Timur ke pasar modern.

Selanjutnya secara bertahap pada Juli 2014, Puspa Agro  bekerjasama dengan Gapoktan-Gapokta di Jawa Timur. Kerjasama ini mampu meningkatkan taraf ekonomi para petani nelayan dan peternak menjadi lebih baik.

Peningkatan taraf ekonomi bagi para petani, peternak dan nelayan karena harga yang diberikan untuk membeli seluruh hasil komoditas itu sangat bagus dan berkeadilan.

Lebih menguntungkan lagi, petani sudah tidak perlu melakukan sortir great hasil pertaniannya. Termasuk soal pengepakannya dilakukan Puspa Agro. “Seluruhnya kita yang lakukan, para petani tinggal menikmati hasil penjualan mereka secara tunai,” tandas Muchibuddin.

Puspa Agro saat ini sudah bekerjasama dengan puluhan Gapoktan di berbagai wilayah di Jawa Timur. Bahkan, Puspa Agro berencana akan membuat divisi pengolahan Coklat sendiri, dengan menggandeng para petani coklat di wilayah Blitar.

Pasalnya, coklat yang saat ini beredar di luar negeri ternyata bersumber dari Indonesia khususnya wilayah Blitar. “Kita harus memanfaatkan agar coklat tersebut bisa dikelola di Indonesia,” tandas Muchibuddin. (st-12)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *