Penanganan Infrastruktur Jalan Sidoarjo Dengan Precast Rigid Pavement

November 17, 2014
Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo, Ir.H. Sigit Setyawan, MT.

Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo, Ir.H. Sigit Setyawan, MT

(SIDOARJOterkini)-Dalam teknologi konstruksi jalan raya dikenal dua jenis perkerasan jalan yakni, perkerasan kaku (rigid pavement) dan perkerasan lentur (flexible pavement). Konstruksi perkerasan kaku dengan material beton bertulang sedangkan konstruksi perkerasan lentur dengan menggunakan material aspal.

Konstruksi jalan beton identik dengan biaya mahal. Konstruksi jalan aspal harga lebih murah dan lebih mudah dalam pelaksanaan. Konstruksi beton umumnya baru dipilih setelah konstruksi aspal tidak bisa menyelesaikan masalah kerusakan jalan. Namun demikian, kerusakan konstruksi jalan sekarang lebih dominan akibat dilintasi kendaraan dengan muatan yang melebihi ketentuan.

Dengan kata lain, konstruksi jalan akan cepat rusak bila mendapat beban yang melampaui kemampuan rencana teknisnya. Bagaimana solusinya? Salah satu permasalahan yang sering dihadapi Pemerintah dan daerah adalah kondisi infrastruktur jalan.

Hampir setiap tahun, Pemerintah dan daerah selalu mengalokasikan biaya yang tidak sedikit untuk melaksanakan penanganan infrastruktur jalan. Penanganan yang dilakukan mulai dari pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala, peningkatan maupun pembangunan jalan baru.

Namun kondisi infrastruktur jalan tidak kunjung membaik. Apa yang sudah dilaksanakan Pemerintah dan daerah dengan biaya yang besar dan kurun waktu yang panjang dalam penanganan infrastruktur jalan seolah- olah tidak berarti. Secara normatif sesuai standar penanganan jalan Kementerian Pekerjaan Umum, jalan yang dalam kondisi baik (dibaca: tingkat kerusakan < 10%) untuk mempertahankan kondisi agar tetap baik perlu ditangani dengan pemeliharaan rutin.

Jalan yang dalam kondisi kerusakan sedang (dibaca: tingkat kerusakan 10-30%) untuk menjadi kondisi baik perlu ditangani dengan pemeliharaan berkala. Sedangkan jalan dengan kerusakan berat (dibaca : tingkat kerusakan > 30%) untuk menjadi kondisi baik perlu ditangani dengan peningkatan jalan.

Dengan pertimbangan kemampuan anggaran, konstruksi jalan yang digunakan untuk penanganan jalan sebagian besar menggunakan konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement) yakni dengan menggunakan material aspal. Kelemahan utama konstruksi jalan yang menggunakan aspal adalah tidak tahan terhadap air. Padahal musim di Indonesia hanya dua, kemarau dan hujan. Sehingga pada saat musim kemarau, konstruksi jalan dalam kondisi yang relatif baik.

Pada musim hujan dapat dipastikan kondisi jalan sebagian besar dalam kondisi yang memprihatinkan. Infrastruktur jalan dapat dikelompokkan menurut fungsi/kelas jalan yang secara teknis direncanakan untuk kendaraan dengan dimensi dan beban muatan yang tertentu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Namun realitanya kendaraan yang melintas di jalan raya menggunakan dimensi kendaraan dan muatan yang jauh lebih besar dari ketentuan tersebut.

Jumlah kendaraan berat yang melintas di jalan raya semakin tahun tidak semakin berkurang bahkan semakin meningkat tajam seiring dengan meningkatnya perekonomian di Indonesia. Diperparah lagi banyak infrastruktur jalan yang belum dilengkapi drainase atau drainase ada namun tidak berfungsi dengan baik. Kondisi inilah yang selalu dihadapi para pengelola infrastruktur jalan.

Anggaran Pemerintah dan daerah dalam setiap tahun selalu terbatas. Sehingga setiap tahun selalu dihadapkan pada masalah klasik. Tutup lubang disini, muncul lubang disana. Belum selesai tutup lubang disini, sudah muncul lubang baru disana. Akibat keterbatasan anggaran tersebut berakibat kerusakan jalan yang seharusnya ditangani dengan peningkatan jalan namun hanya bisa ditangani dengan pemeliharaan rutin.

Penanganan yang tidak sesuai dengan tingkat kerusakan jalan berdampak pada semakin meningkatnya kerusakan jalan. Sampai kapan kondisi ini terus terjadi? Apa yang bisa dan harus dilakukan? Sudah saatnya merubah pola pikir dalam penanganan konstruksi jalan. Konstruksi jalan dengan perkerasan lentur kenyataan yang ada hanya menyelesaikan masalah dalam jangka pendek.

Pemerintah/Daerah bersama DPR sudah saatnya untuk berpikir untuk jangka panjang dalam penanganan infrastruktur jalan. Masa jabatan kepala daerah yang hanya lima tahun bukan merupakan waktu yang panjang untuk berbuat sesuatu.

Kepala daerah sekarang dituntut berani membuat kebijakan yang mungkin tidak populis dalam upaya mencari solusi khususnya menghadapi permasalahan infrastruktur jalan. Harus berani merubah kebijakan penanganan infrastruktur jalan yang biasanya menggunakan konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement) dengan menggunakan konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement) yang lebih bermanfaat untuk jangka panjang.

Dalam penggunaan konstruksi perkerasan kaku ini banyak yang perlu dipertimbangkan. Jika pembangunan jalan baru pada ruas jalan baru mungkin tidak ada masalah. Namun jika konstruksi perkerasan kaku ini digunakan untuk peningkatan jalan eksisting apalagi untuk ruas jalan dengan padat lalu lintas dan didominasi kendaraan berat tentu perlu dipertimbangkan secara matang.

Konstruksi beton yang digunakan untuk konstruksi jalan tentu memerlukan pertimbangan dalam aspek metode pelaksanaan, kemampuan anggaran, kemampuan para penyedia jasa, kondisi lingkungan dan resiko kegagalan konstruksi.

Precast Rigid Pavement, Menjawab Tantangan Penanganan Infrastruktur Jalan

Pembangunan jalan menggunakan konstruksi beton sudah banyak dilaksanakan. Sebagian besar merupakan pembangunan pada ruas jalan baru. Beberapa pekerjaan ada yang digunakan untuk peningkatan jalan eksisting berupa jalan aspal.

Selama ini konstruksi jalan beton dilakukan dengan konstruksi beton secara manual. Di Sidoarjo telah dilakukan uji coba penggunaan konstruksi jalan beton pracetak, untuk meminimalisasi kekurangan pada konstruksi jalan beton manual.

Apa untungnya? Ruas jalan Kemangsen di kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo dengan panjang 1.100 m lebar perkerasan 7 m, merupakan jalan kabupaten yang memiliki konstruksi aspal yang sudah beberapa kali dilakukan pelapisan ulang (overlay).

Struktur tanahnya lembek, elevasi rendah sehingga sering tergenang pada musim hujan. Volume lalu lintas cukup tinggi dengan dominasi kendaraan berat. Hampir setiap tahun dilakukan penanganan di ruas jalan ini, baik dengan pemeliharaan maupun peningkatan. Namun ruas jalan ini sering menjadi sorotan masyarakat. Seolah-olah ruas jalan ini tidak pernah ditangani.

Setelah beberapa kali diskusi dengan berbagai pihak yang kompeten dalam konstruksi jalan beton, muncul solusi dengan menggunakan konstruksi jalan beton pracetak (precast rigid pavement). Konstruksi jalan beton pracetak dibuat dengan menggunakan rangka beton berbentuk lembaran yang dirangkai sedemikian sehingga memiliki ikatan yang kuat.

Luasan lembaran dipertimbangkan beberapa aspek, panjang dan lebar badan jalan, berat sendiri beton, kemampuan mobile crane, aspek mobilisasi ke lokasi pekerjaan. Dalam pelaksanaan uji coba konstruksi jalan beton pracetak di lokasi jalan Kemangsen Krian dengan panjang 173 m lebar 7m, diputuskan setiap lembar beton pracetak dibuat dengan dimensi, panjang 3,50 m lebar 2,40 m dengan ketebalan beton 26 cm, berat beton setiap lembar 5.200 kg.

Untuk mobilisasi beton pracetak dari lokasi produksi menuju lokasi pekerjaan harus mempertimbangkan jalur yang akan dilintasi, bila menggunakan kendaraan berat 20 feet dalam setiap rit dapat memobilisasi sebanyak 5 lembar, kendaraan berat 40 feet dapat memobilisasi sebanyak 10 lembar dalam setiap rit-nya.

Hasil pelaksanaan pekerjaan dilakukan evaluasi oleh Dinas PU Bina Marga Sidoarjo dengan hasil sebagaimana dalam tabel Evaluasi. Dalam jangka pendek pekerjaan konstruksi jalan beton pracetak membutuhkan biaya konstruksi yang lebih besar (dibaca : 250 % lebih besar) dibandingkan dengan menggunakan konstruksi jalan aspal beton (aspal hot mix), namun bila dipertimbangkan dalam jangka panjang konstruksi beton pracetak lebih menguntungkan karena tidak memerlukan pemeliharaan sampai minimal 20 (dua puluh tahun), konstruksi aspal beton membutuhkan pemeliharaan rutin setiap tahun dan memerlukan peningkatan jalan setiap 3 tahun.

Konstruksi beton pracetak juga lebih tahan terhadap genangan sehingga pada musim hujan dinas pengelola infrastruktur jalan tidak dipusingkan dengan penanganan jalan yang selama ini sering dilakukan. Kabupaten Sidoarjo yang hampir semua ruas jalannya dilalui kendaraan berat, membutuhkan konstruksi jalan yang mampu menahan beban kendaraan dengan mst minimal 10 ton/sumbu kendaraan.

Apalagi sejak tanggal 1 Oktober 2014 PT Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol Surabaya-Gempol sudah mulai membatasi kendaraan berat dengan mst > 10 ton masuk ke jalan tol. Kebijakan ini dapat dipastikan berdampak pada ruas jalan di Sidoarjo.

Upaya pencegahan sudah dilakukan oleh Dinas Perhubungan dan Kepolisian Resor Sidoarjo namun hasilnya memang belum terlihat nyata. Sehingga penggunaan konstruksi jalan dengan beton pracetak ini akan menjadi sebuah harapan baru bagi para pengguna jalan di Sidoarjo untuk mendapatkan pelayanan penyediaan infrastruktur jalan yang lebih komprehensif dan berjangka panjang.

Penggunaan konstruksi jalan beton pracetak untuk penanganan ruas jalan yang sering dilintasi kendaraan berat merupakan pilihan yang tepat. Untuk pelaksanaan pekerjaan pada ruas jalan eksisting dengan volume lalu lintas yang padat dan dominasi kendaraan berat harus dilakukan secara cermat.

Penggunaan konstruksi jalan beton manual selama ini memiliki kekurangan, untuk mencapai konstruksi beton yang sempurna memerlukan penutupan ruas jalan total, pengawasan pelaksanaan rangka besi tulangan beton dan proses pembetonan harus dilakukan dengan supervisi yang ketat dan pelaksanaan harus dilakukan harus menerus.

Kekurangan ini yang diminimalisasi pada penanganan jalan dengan konstruksi beton pracetak. Penggunaan konstruksi jalan beton pracetak di ruas jalan di Sidoarjo perlu mendapat dukungan semua pihak. Pemerintah dan DPRD bersama masyarakat perlu melakukan evaluasi bersama dari berbagai aspek pembangunan, baik aspek pembiayaan maupun aspek teknis.

Pola pikir dalam penanganan infrastruktur jalan perlu berubah, dengan mengutip jargon orang sakit, “Sehat Itu Mahal Harganya namun Bila Sakit Ternyata Jauh Lebih Mahal Harganya”. Biaya pembangunan jalan beton pracetak itu mahal ‘sekali’ (dibaca: dilakukan satu kali) namun penanganan jalan dengan aspal beton yang dilakukan ‘tidak sekali’ (dibaca: dilakukan berulang dan setiap tahun) itu jauh lebih mahal biayanya. (st-12/Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo, Ir. H. Sigit Setyawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *