Tanggul Jebol Belum Aman, Warga Was-was

September 11, 2014
image

(SIDOARJOterkini)-Aliran lumpur dari tanggul 68 yang jebol masih mengkhawatirkan warga. Hal ini terlihat dari aliran lumpur yang masin merembes dari sela-sela retakan tanggul.

Padahal, selain menutup tanggul yang jebol dengan anyaman bambu dan sandbag, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) juga mengalirkan lumpur ke kolam penampungan lumpur (pond) Glagaharum, Kecamatan Porong. Nyatanya, pengaliran lumpur ke pond sisi timur pusat semburan tersebut tidak berarti banyak.

Aliran lumpur tetap meluber keluar tanggul 68 yang berbatasan dengan lahan kosong dan belasan pemukiman warga. Bahkan, aliran lumpur terlihat cukup deras menyasar ke tempat yang lebih rendah. Untuk itulah, BPLS akan mendatangkan alat berat guna memperbaiki tanggul yang jebol agar tidak mengancam pemukiman warga. “Kita mengalirkan lumpur ke pond Glagaharum secara manual, dan ternyata tidak bisa maksimal,” ujar Humas BPLS Dwinato Prasetyo.

Selain tanggul 68 Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin yang jebol. Akibat penanganan tanggul yang dilarang warga, membuat beberapa tanggul mengalami kritis. Seperti di titik 73 Desa Kedungbendo Kecamatan Tanggulangin.

Menurut Dwinanto, tanggul di titik 73 juga sudah terlihat retakan dan dikhawatirkan akan jebol. Begitupula tanggul di titik 21 Desa Siring, Kecamatan Porong dan titik 34 Desa Pajarakan, Kecamatan Jabon, kondisinya juga mengkhawatirkan.

Volume lumpur sejajar dengan ketinggian tanggul. Padahal, elevasi tanggul lumpur saat ini sudan mencapai 11 meter. BPLS tidak bisa berbuat apa-apa karena warga masih melarang penanggulan, sebelum ada pelunasan pembayaran ganti rugi.

Pantauan di lokasi, lumpur yang mengalir ke lahan kosong dan pemukiman warga bertambah panas. Pasalnya, lumpur yang menerobos sela-sela retakan tanggul itu langsung berasar dari pusat semburan. Suhu lumpur panas tersebut mencapai 48 derajat yang dikhawatirkan jika terkena kulit akan melepuh.

Suhu lumpur yang terlalu panas membuat petugas BPLS tidak melakukan penanganan secara maksimal. Terlebih, mereka mengerjakan perbaikan tanggul secara manual dan tidak menggunakan alat berat. “Kalau tutun ke lumpur tidak memungkinan karena suhunya terlalu panas,” ujar salah satu petugas. (st-13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *