Ramadan, Media ‘Ujian’ Kenaikan Tingkat

Juli 16, 2014
Penulis: Ir.H.Sigit Setyawan,MT Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo

Penulis:
Ir.H.Sigit Setyawan,MT
Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo

(SIDOARJOterkini)-“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah 183). Ayat ini menunjukkan bahwa puasa merupakan ‘media’ ujian kenaikan tingkat, jika ‘lulus’, maka seorang yang beriman (Mukmin) akan naik tingkat menjadi bertakwa (Muttaqin).

Puasa Ramadan merupakan Hak milik Allah SWT dan merupakan Kewajiban bagi manusia untuk menunaikan/melunasi. Sehingga kosa kata yang benar adalah menunaikan puasa bukan melaksanakan puasa. Ayat 183 Al-Baqarah di atas merupakan ayat yang sudah sangat populer untuk menjelaskan berbagai hal tentang Ramadan.

Namun eloknya bukan hanya ayat 183 untuk memahami makna Ramadan, akan lebih lengkap bila dilanjutkan ayat 184-185. Karena ketiga ayat tersebut sangat berkaitan satu ayat dengan ayat lainnya. Untuk memahami makna ayat-ayat tersebut bisa dilihat akhir dari masing-masing ayat-ayat tersebut. Ayat 183 diakhiri dengan “…… agar kamu bertakwa”, ayat 184 diakhiri dengan ” ……… dan puasamu itu lebih baik jika kamu mengetahui”, dan pada ayat 185 diakhiri dengan ” ……….. agar kamu bersyukur”.

Bagaimana relationship antara makna Al-Baqarah ayat 183-185 dengan puasa Ramadan sebagai ‘media’ ujian kenaikan tingkat? Beberapa bulan yang lalu di media cetak dan media elektronik heboh dengan berita ujian nasional.

Menjelang ujian nasional (unas), bukan hanya siswa yang merasakan atmosfir suasana unas namun guru dan orang tua siswa juga terkena virus atmosfir unas tersebut. Ada sekolah yang mengadakan ‘ritual’ unas dengan gathering siswa dengan orang tuanya berupa mencium dan membasuh kaki ibunya.

Suasana galau menghantui para siswa dan orang tua-nya ketika menghadapi unas, ada rasa takut, berdebar, dan senang campur aduk menjadi satu. Unas hanya diadakan setahun satu kali, jika tidak lulus berarti harus mengulang lagi unas tahun depan.

Perasaan senang muncul karena unas merupakan representasi keberhasilan untuk menuju tahap di atasnya. Lulus unas diwujudkan dengan cara bermacam-macam, ada yang konvoi keliling kota. Mereka gak peduli lulus dengan nilai berapa, yang penting lulus.

Namun ada yang menyikapi kelulusan dengan tenang penuh rasa syukur. Bagaimana suasana hati kita ketika memasuki Ramadan, sebagai media ujian yang disediakan pencipta manusia dan alam semesta ini? Menjelang Ramadan adakah perasaan takut, berdebar dan senang dalam diri kita.

Yang sering muncul dalam perasaan kita kadang sebaliknya, “waduh sudah Puasa lagi”. Menunjukkan perasaan berat untuk menghadapi puasa Ramadan. Adakah dalam perasaan kita takut tidak lulus dalam puasa Ramadan ini dan mengulang satu tahun lagi.

Siapa yang menjamin usia kita bisa sampai Ramadan tahun depan? Untuk menghilangkan perasaan takut menghadapi ujian seharusnya kita mempersiapkan diri sebelum masa ujian datang. Bagi mereka yang mengetahui, mereka ‘belajar’ dengan puasa sunah Senin-Kamis, puasa bulan Rajab (dua bulan sebelum Ramadan) dan puasa sunah lainnya.

Mereka berharap saat menghadapi Ramadan, mereka sudah siap. Dalam Al-Baqarah ayat 183, para Mukmin diingatkan bahwa sudah datang saatnya ujian yang wajib ditempuh agar bisa naik menjadi Muttaqin. Ayat ini merupakan uraian tentang latar belakang, dasar hukum dan tujuan untuk berpuasa Ramadan yakni, agar kamu bertakwa.

Al-Baqarah ayat 184 menjelaskan prosedur dari ujian ini, bagi yang sakit wajib mengganti di hari lain dan bagi yang berat menjalankan wajib membayar fidyah. “Bagi yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. Meski puasa Ramadan merupakan perintah wajib, namun Allah SWT masih memberikan pengecualian bagi yang memiliki keterbatasan kondisi (sakit, dalam perjalanan dan berat menjalankan) dapat mengganti dengan kewajiban yang lain.

Kebajikan di bulan Ramadan yang sering dilakukan Rasulullah SAW selain puasa adalah qiyyamul lail (sholat tarawih), tadarus Qur’an dan sedekah. Bila kebajikan ini dilaksanakan dengan dasar kerelaan hati akan memberikan nilai ‘lebih baik bagimu jika kamu mengetahui’.

Sebagai uraian dari ayat 183-184 dan menyikapi bila lulus ujian puasa Ramadan dijelaskan dalam ayat 185, bahwa “bulan Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al- Qur’an”. Al-Qur’an merupakan huddallinnas ,petunjuk bagi manusia (dan penjelasannya), wal furqan, dan pembeda (yang benar dan yang batil).

Bila kita mengikuti aturan ini dengan mengagungkan petunjuk-Nya maka Allah SWT memerintahkan, “wa la’alakum tasykurun, dan agar kamu bersyukur”. Mengakhiri Ramadan, tidak selayaknya kita melampiaskan perayaan ‘kelulusan’ dengan cara berlebihan. Sesungguhnya kita diperintahkan untuk bersyukur karena telah melewati ujian sebagaimana dijelaskan dalam ayat 185 tersebut. (*#*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *