Jokowi Hadiri Peringatan 8 Tahun Lumpur

Juni 2, 2014

image SIDOARJO- Calon Presiden (Capres) Joko Widodo menghadiri peringatan 8 tahun semburan lumpur yang digelar oleh korban lumpur di tanggul titik 21, Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, Kamis (29/5). Sayangnya, gubernur DKI Jakarta itu tak sampai lima menit menyampaikan pidato politiknya. Kedatangan pria yang akrab disapa Jokowi tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh korban lumpur sejak siang hari. Karena sesuai jadwal, Jokowi hadir di lumpur sekitar pukul 14.00 WIB. Kenyataannya mantan walikota Solo tersebut baru datang sekitar pukul 16.00 WIB. Sampai di lokasi lumpur, Jokowi langsung didaulat untuk melihat patung-patung yang dipasang diatas kolam lumpur. Bahkan, dia juga diberi “hadiah” segenggam lumpur oleh empat orang korban lumpur yang seluruh badannya dibalut lumpur. Dalam pidatonya yang tak lebih dari lima menit, Jokowi mengaku sudah melihat dan menerima laporan terkait kondisi korban lumpur. “Negara harusnya hadir sebagai representasi kedaulatan rakyat. Jika negara absen, artinya negara melupakan rakyat,” ujarnya. Jokowi kemudian pamit kepada korban lumpur karena dia masih harus ke Bali karena ada acara di Denpasar. “Saya tidak bisa lama-lama disini karena sore ini juga harus sudah berada di Bali,” jelasnya. Peringatan semburan lumpur Lapindo kali ini kental nuansa politis dengan kehadiran Jokowi ditengah-tengah acara itu. Dalam peringatan delapan tahun semburan lumpur, tidak hanya korban lumpur saja yang terlibat tapi dari beberapa relawan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Salah satu koordinator Sekretariat Gabungan Korban Lumpur Khoirul Huda mengatakan kalau permasalahan lumpur yang belum selesai saat ini adalah pelunasan ganti rugi. Kuncinya adalah ada campur tangan pemerintah dalam memberi dana talangan atau kredit kepada PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ). Pasalnya, saat bertemu dengan perwakilan warga MLJ mengaku belum ada dana dan kapan pelinasan belum bisa menentukan. “Artinya pemerintah harus turun tangan dan melunasi pembayaran ganti rugi korban lumpur,” tegasnya. Ditanya aksi korban lumpur dalam memperingati delapan tahun semburan lumpur di tanggul titik 21, Khoirul Huda mengaku tidak tahu. Sebab, korban lumpur yang tergabung dalam Setgab tidak melakukan aksi apa-apa. Demikian pula ketika ditanya kedatangan Jokowi dalam peringatan lumpur, Khoirul Huda mengaku korban lumpur tidak mau dipolitisasi. “Kalau kita minta presiden terpilih nanti menyelesaikan ganti rugi terlalu lama. Kita minta pemerintahan sekarang yang menyelesaikan ganti rugi,” tandasnya. Disisi lain, peneliti alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, Djaja Laksana optimistis jika teori bendungan “Bernoulli” bisa digunakan untuk menghentikan semburan lumpur. “Saat ini belum telat mengaplikasikan teori ‘bernoulli’ untuk menghentikan semburan lumpur,” ujarnya saat berada di areal semburan lumpur. Secara prinsip semburan tersebut sudah ditangani dengan menggunakan prinsip bendungan “Bernoulli”. Sebabm pembangunan tanggul yang diterapkan oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) ini sebenarnya sudah mengakomodir prinsip teori bendungan ‘Bernoulli’. Namun bendungan tersebut masih belum bisa mengehentikan semburan lumpur Lapindo dari dalam perut bumi mengingat ketinggian tanggul masih berkisar belasan meter. Sesuai teori tersebut, lumpur baru bisa berhenti jika ketinggian tanggul tersebut sekitar 30 meter. Tetapi, untuk mewujudkan pembangunan tanggul setinggi itu tidak bisa dikerjakan dengan mudah.. Pembangunan bendungan tersebut bisa dilakukan dengan cara memutar sehingga hasilnya bisa lebih maksimal untuk menghentikan semburan lumpur ini. Selain dibuat dengan cara memutar, pemasangan tiang pancang di dekat pusat semburan juga bisa dilakukan. Kemudian semburan lumpur yang berasal dari dalam akan dikembalikan lagi sehingga semburan akan berhenti dengan sendirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *